PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kejayaan
Islam dalam membangun peradaban manusia tidak dapat dengan mudah dibantah.
Dalam sejarah peradaban Islam tercatat tinta emas bagaimana para sahahabat
dengan semangat mempelajari ilmu pengetahuan baik dari al-Qur’an maupun hadits,
yang kemudian melahirkan berbagai cabang ilmu pengetahuan yang diaplikasikan ke
dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tidak
dapat dipungkiri pula bahwa Bani Abbasiyah memberikan konstribusi yang sangat
besar terhadap perkembangan peradaban Islam terutama pada bidang ilmu
pengetahuan. “The golden age of Islam” atau “Masa keemasan Islam”, ya,
itulah bukti kesuksesan khalifah-khalifah Bani Abbasiyah dalam mengangkat
peradaban Islam pada masa silam.
Oleh karena itu, dalam makalah ini akan diuraikan bagaimana latar
belakang pada dinasti Bani Abbasiyah, para khalifah yang mencapai keemasan,
serta tokoh-tokoh intelektual muslim pada masa itu.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana Latar belakang Dinasti Abbasiyah?
2.
Bagaimana Perkembangan Islam pada Masa Dinasti Abbasiyah?
3.
Siapakah para Khalifah yang mencapai keemasan?
4.
Apa saja faktor – faktor keberhasilan Bani Abbasiyah?
5.
Siapa sajakah Tokoh intelektual muslim yang muncul?
PEMBAHASAN
1.
Latar Belakang Dinasti Abbasiyah
Nama
Dinasti Abbasiyah diambil dari nama salah seorang dari paman Nabi Muhammad SAW.
yang bernama al-Abbas ibn Abd al-Muttalib ibn Hasyim. Orang Abbasiyah merasa
lebih berhak dari pada Bani Umayyah atas kekhalifahan islam, sebab mereka
adalah dari cabang Bani Hasyim yang secara nasab keturunan lebih dekat dengan
Nabi Muhammad SAW.[1]
Pemerintahan
Bani Umayyah adalah pemerintahan yang mempunyai wibawa yang besar, meliputi
wilayah yang luas. Mulai dari wilayah Sind dan berahir di Spanyol. Namun hanya
Dinasti ini hanya bisa bertahan kurang dari 1 abad karena kurang mendapat
simpati dari rakyatnya. Hal ini yang menyebabkan munculnya Dinasti Abbasiyah.[2]
Proses
berdirinya Dinasti Abbasiyah ini diawali dari tahap persiapan dan perencanaan
yang dilakukan oleh Ali ibn Abdullah ibn Abbas, seorang zahid yang hidup pada
masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). Persiapan yang dilakukan Ali
adalah melakukan propaganda terhadap umat islam (utamanya Bani Hasyim).[3]
Propaganda
Muhammad ibn Ali mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat karena
beberapa faktor yaitu meningkatnya kekecewaan kelompok mawali terhadap Dinasti
Bani Umayyah karena selama Dinasti ini berkuasa mereka ditempatkan pada posisi
kelas dua dalam sistem sosial sementara orang-orang Arab menduduki kelas
bangsawan, pecahnya persatuan antar suku bangsa Arab dengan lahirnya fanatisme
kesukuan antara Arab utara dengan Arab selatan, timbulnya kekecewaan kelompok
agama terhadap pemerintahan yang sekuler karena mereka menginginkan pemimpin
negara yang memiliki pengetahuan dan integritas keagamaan yang mumpuni,
perlawanan dari kelompok Syiah yang menuntut hak mereka atas kekuasaan yang
pernah dirampas oleh Bani Umayyah karena mereka tidak mudah melupakan peristiwa
tersebut.
Sebelum menggulingkan kekuasaan Dinasti
Umayyah, para keluarga Abbas melakukan berbagai persiapan dengan melakukan
pengaturan strategi yang kuat dan persiapan yang matang juga dukungan yang kuat
dari masyarakat. Oleh karena itu sangat diperlukan pemikiran matang dan
strategi yang dapat memperhitungkan keadaan untuk melakukan gerakan propaganda
tersebut.
Ali
bin Abdullah bin Abbas kemudian digantikan anaknya Muhammad bin Ali. Pada masa
Muhammad bin Ali ini, usaha mendirikan dinasti Abbasiyah semakin meningkat
dengan memperluas gerakan antara lain kota al-Humaymah sebagai pusat
perencanaan dan organisasi, Kufah sebagai kota penghubung dan Khurasan sebagai
pusat gerakan praktis. Setelah Muhammad bin Ali wafat, beliau digantikan oleh
anaknya Ibrahim al-Imam.Guna mempertahankan wilayahnya beliau mengangkat
panglima perang Abu Muslim al-Khurasan dan berhasil merebut Khurasan dan
mencapai kemenangan. Setelah beliau wafat, perjuangannya diteruskan oleh
adiknya yaitu Abu Abbas bin Muhammad bin Ali, beliau ingin merangkul kekuatan
dari keluaga lain yaitu Bani Hasyim dan kaum Alawiyin yang tidak pernah
mendapat perhatian dan dikucilkan oleh Dinasti Umyyah.
Dengan
bergabungnya Bani Hasyim dan Kaum Alawyin maka gerakan Abu Abbas menjadi
kekuatan yang ditakuti oleh Bani Umayyah, melihat posisinya semakin terpojok
akhirnya Marwan bin Muhammad, peguasa terakhir Dinasti Bani Umayyah
menyelamatkan diri dari kejaran massa menuju ke wilayah Mesir tepatnya di
Fustad, disitulah dia mati terbunuh pada tahun 132 H/750 M. Terbunuhnya
Khalifah terakhir Bani Umayyah ini menandai era baru dalam perjalanan sejarah
pemerintahan islam, kemudian kekuasaan pindah ke tangan penguasa baru yaitu
para penguasa yang berasal dari keturunan Hasyim atau keturunan Abbas kemudian
Dinasti ini disebut dengan Dinasti Abbasiyah.
2.
Perkembangan Islam pada Masa Dinasti Abbasiyah
a.
Peta Wilayah Islam
Pada
masa daulah Bani Abbasiyah ini wilayah islam sangat luas, meliputi wilayah yang
dikuasai oleh Bani Umayyah antara lain Saudi Arabia, Yaman Utara, Yaman
Selatan, Oman, Uni Emirat, Arab, Quait, Iraq, Iran, Yordania, Palestina
(Israel), Libanon, Mesir, Libia, Tunisia, az-Zajair, Maroko, Spanyol,
Afganistan, dan Pakistan.
Sikap politik daulah Abbasiyah berbeda dengan daulah Bani Umayyah
sebab dalam daulah Bani Abbasiyah pemegang kekuasaan lebih merata, bukan hanya
dipegang oleh bangsa Arab, tetapi lebih demokratis melihat bahwa kekuasaan itu
harus dibagi-bagi dalam segala kekuatan masyarakatnya, maka bangsa Persia juga
diberi kekuasaan begitu juga bangsa Turki dan lainnya.[4]
b.
Pemerintahan Bani Abbasiyah
Pemerintahan
Bani Abbasiyah merupakan kelanjutan dari khalifah Umayyah dimana pendiri dari
khalifah ini adalah keturunan al-Abbas, paman Nabi Muhammad SAW. yaitu Abdullah
al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas dimana pola
pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial,
dan budaya.
Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para
sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode :
1)
Periode pertama (132-232 H/750-847 M), disebut periode pengaruh
Arab dan Persia pertama.
2)
Periode kedua (232-334 H/847-945 M), disebut periode pengaruh Turki
pertama.
3)
Periode ketiga (334-447 H/945-1055 M), Periode ini disebut juga
masa pengaruh Persia kedua.
4)
Periode keempat (447-590 H/1055-1194 M), disebut juga dengan masa
pengaruh Turki kedua.
5)
Periode kelima (590-656 H/1194-1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh
dinasti lain,tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad.
3.
Khalifah – Khalifah Bani Abbasiyah
Pada
periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara
politis, para khalifah betul-betul kokoh yang kuat dan merupakan pusat
kekuasaan, politik, dan agama. Disisi lain kemakmuran masyarakat mencapai
tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi
perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam islam.
Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai keemasan
dibawah pimpinan al-Mahdi, al-Hadi, Harun ar-Rasyid, al-Ma`mun, al-Mu`tashim, al-Wasiq
dan al-Mutawakil.
a.
Al-Mahdi (775-785 M)
Al-Mahdi
dilahirkan di Hamimah pada tahun 126 H. Sewaktu ayahnya al-Mansur mulai menjadi
khalifah, al-Mahdi berusia 10 tahun dan Isa bin Musa sebagai putra mahkota
bakal pengganti al-Mansur menurut perjanjian yang dibuat oleh Abul Abbas
as-Saffah, tetapi al-Mansur berniat untuk mencalonkan anaknya menjadi
penggantinya kelak. Karena itu beliau mengambil langkah-langkah untuk mengasuh
dan mengajarnya tentang kepahlawanan dan cara-cara memimpin tentara.
Ketika
al-Mahdi menjadi khalifah, negara telah dalam keadaan stabil dan mantap, dapat
mengendalikan musuh-musuh dan keuangannya pun telah terjamin. Karena itu zaman
pemerintahan al-Mahdi terkenal sebagai zaman yang makmur dan hidup dalam
kedamaian.
Al-Mahdi telah memerintah supaya dibangun beberapa buah bangunan
besar di sepanjang jalan yang menuju ke Makkah sebagai tempat persinggahan para
musafir, memerintahkan supaya dibuat kolam-kolam air untuk kepentingan
kelompok-kelompok kafilah dan hewan-hewan mereka dan mengadakan hubungan pos di
antara kota Bagdad dan wilayah-wilayah islam yang terkemuka.[5]
b.
Al-Hadi (775-786 M)
Al-Hadi
adalah khalifah pengganti al-Mahdi yang merupakan anaknya sendiri, pada tahun
166 H al-Mahdi melantik pula anaknya yang seorang lagi yaitu Harun ar-Rasyid
sebagai putra mahkota bakal pengganti al-Hadi. Kalau al-Mahdi wafat, al-Hadi
dilantik menjadi khalifah yang menggantikannya secara resmi.
Khalifah
al-Hadi ialah khalifah yang tegas, walaupun beliau gemar berhibur dan bersenda
gurau, tetapi semua itu tidak melalaikannya dari memikul tanggung jawab.[6]
Seperti yang telah diketahui khalifah al-Hadi adalah seorang yang
berhati lembut, berjiwa bersih, berakhlak baik, baik tutur katanya, senantiasa
berwajah manis dan jarang menyakiti orang.
c.
Harun ar-Rasyid (785-809 M)
Harun
ar-Rasyid dilahirkan di Raiyi pada tahun 145 H,ibundanya adalah Khaizuran, bekas
seorang hamba yang juga ibunda al-Hadi. Beliau telah dibesarkan dengan baik
sewaktu beliau diasuh agar berpribadi kuat dan berjiwa toleransi. Ayahanda
beliau al-Mahdi telah memikulkan beban yang berat, bertanggung jawab memerintah
negeri dengan melantik beliau sebagai amir di Saifah pada tahun 163 H. Pada
tahun 164 H beliau dilantik memerintah seluruh wilayah Anbar dan negeri-negeri
di Afrika Utara. Harun ar-Rasyid telah melantik pula beberapa orang pegawai
tinggi, mewakili beliau di kawasan-kawasan tersebut.[7]
Pribadi
dan akhlak Khalifah Harun ar-Rasyid adalah baik dan mulia yang menyebabkan
beliau sangat dihormati dan disegani. Beliau adalah salah seorang khalifah yang
suka bercengkrama, alim dan dimuliakan. Selain itu, beliau juga terkenal
sebagai seorang pemimpin yang pemurah dan suka berderma. Beliau juga menyukai
musik, ilmu pengetahuan dan dekat dengan para ulama serta penyair.
Pada zaman pemerintahan Harun ar-Rasyid, Baitul
Mal ditugaskan menanggung narapidana dengan memberikan setiap orang makanan
yang cukup serta pakaian musim panas dan musim dingin. Sebelum itu khalifah
al-Mahdi juga berbuat demikian tetapi dengan nama pemberian, sementara Khalifah
Harun ar-Rasyid menjadikannya suatu tugas
dan tanggung jawab Baitul Mal.
Khalifah
Harun ar-Rasyid mampu membawa negeri yang dipimpinnya ke masa kejayaan,
kemakmuran dan kesejahteraan. Berikut usaha Harun ar-Rasyid selama masa
pemerintahannya:
- Mengembagkan
bidang ilmu pengetahuan dan seni.
- Membangun
gedung-gedung dan sarana sosial.
- Memajukan
bidang ekonomi dan industri.
- Memajukan
bidang politik pertahanan dan perluasan wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah.
d.
Al-Ma`mun (813-833 M)
Nama
lengkap khalifah ini adalah Abdullah Abdul Abbas al-Ma`mun, adalah anak dari
Khalifah Harun ar-Rasyid yang dilahirkan pada tanggal 15 Rabiulawal tahun 170
H/786 M. Kelahirannya bertepatan dengan wafat kakeknya yaitu Musa al-Hadi, juga
bersamaan dengan waktu ayahnya diangkat menjadi khalifah. Adapun ibunda
al-Ma`mun adalah seorang bekas hamba sahaya yang bernama Marajil.
Selain
sebagai seorang pejuang yang pemberani beliau juga sebagai seorang pengusaha
yang bijaksana. Semangat berkarya, bijaksana, pengampun, adil, cerdas merupakan
sifat-sifat yang menonjol dalam pribadi al-Ma`mun.
Khalifah
Abdullah al-Ma`mun selama menjabat sebagai pemimpin Daulah Abbasiyah telah berusaha
melakukan perbaikan-perbaikan hal-hal sebagai berikut:
- Menghentikan
berbagai gerakan pemberontakan untuk menciptakan stabilitas dalam negeri.
- Penertiban
administrasi negara untuk penataan kembali sistem pemerintahan.
- Pembentukan
badan negara.
- Pembentukan
Baitul Hikmah dan Majlis Munazarah.
- Lembaga Baitul
Hikmah berfungsi sebagai perpustakaan (daur al-kutub), yang tampaknya juga
aktif disana para guru, para ilmuan, disamping aktivitas Penerjemahan, penulisannya
dan penjilidannya.
e.
Al-Mu`tashim (833-842 M)
Abu
Ishak Muhammad Al-Mu`tashim lahir pada tahun 187 H. Ibunya bernama Maridah. Beliau
dibesarkan dalam suasana ketentaraan, karena sifat berani dan minatnya untuk
menjadi pahlawan. Di masa pemerintahan al-Ma`mun, al-Mu`tashim merupakan tangan
kanannya dalam menyelesaikan kesulitan dan memimpin peperangan. Al-Ma`mun juga
melantik al-Mu`tashim sebagai pemerintah di negeri Syam dan Mesir, kemudian
melantiknya pula sebagai putra mahkota. Al-Mu`tashim menyandang jabatan
khalifah sesudah wafatnya, al-Ma`mun.[8]
Khalifah pindah bersama korp-korps kayangannya ke Samara. Di sana
beliau mendirikan istana, masjid dan sekolah-sekolah. Tidak lama kemudian
Samara mulai megah seperti Baghdad, tetapi beliau tidak pernah menggantikan
Baghdad sebagai pusat intelektual yang besar. Hal ini juga didukung oleh
kondisi perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini berkembang dengan pesat, bukan
hanya ilmu pengetahuan umum tetapi ilmu pengetahuan agama.
f.
Al-Watsiq (842-847 M)
Al-Watsiq
dilahirkan pada tahun 196 H, ibunya keturunan Roma bernama Qaratis. Al-Watsiq
berperibadi luhur, berpikiran cerdas dan berpandangan jauh dalam mengurus
segala perkara. Bapaknya telah memberinya kekuasaan di Baghdad, ketika
al-Mu`tashim berpindah ke Samara bersama-sama dengan angkatan tentaranya
kemudian melantiknya sebagai putra mahkota bakal khalifah. Al-Watsiq telah
menyandang jabatan khalifah setelah wafatnya al-Mu`tashim, ayahnya.[9]
Al-Watsiq adalah penguasa yang sangat cakap, pemerintahannya mantap
dan penuh perhatian, beliau banyak memberikan uang dan menolong ilmu
pengetahuan sepenuhnya, industri maju dan perdaganagn lancar.
g.
Al-Mutawakkil (847-861 M)
Ja`far al-Mutawakil adalah putra al-Mu`tasim Billah (833-842) dari
seorang wanita persia. Beliau menggantikan saudaranya al-Watsiq. Selama masa
pemerintahannya al-Mutawakil menunjukkan rasa toleran terhadap sesama.
Al-Mutawakkil mengandalkan negarawan Turki dan pasukannya untuk meredam
pemberontakan dan memimpin pasukan menghadapi pasukan asing. Al-Mutawakkil
wafat pada tanggal 11 Desember 861 M.
4.
Faktor-Faktor Keberhasilan Bani Abbasiyah
Bani Abbasiyah mencapai puncak keemasannya karena terdapat beberapa
faktor diantaranya adalah :
a)
Islam makin meluas tidak di Damaskus tetapi di Baghdad.
b)
Adanya perkembangan ilmu pengetahuan.
c)
Dalam penyelenggaraan negara pada masa Bani Abbasiyah ada jabatan
wazir.
d)
Ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sangat mulia dan
berharga. Para khalifah membuka kesempatan pengembagan pengetahuan
seluas-luasnya.
e)
Rakyat bebas berpikir serta memperoleh hak asasinya dalam segala
bidang.
f)
Daulah Abbasiyah, berbakat
usaha yang sungguh-sungguh membangun ekonominya. Mereka memiliki
pembendaharaan yang berlimpah-limpah disebabkan penghematan dalam pengeluaran.
g)
Para khalifah banyak mendukung perkembangan ilmu pengetahuan
sehingga banyak buku-buku yang dikarang dalam berbagai ilmu pengatahuan, serta
buku-buku pengetahuan berbahasa asing diterjemahkan kedalam bahasa Arab.
h)
Adanya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang
lebih dahulu mengalami perkembangan ilmu pengetahuan, asimilasi itu berlangsung
efektif dan bangsa-bangsa tersebut memberi saham pengetahuan yang bermanfaat.
5.
Lahirnya Tokoh Intelektual Muslim
a.
Bidang Filsafat
1.
Al-Khindi (811-874 M)
Abu Yusuf Ishak Al-Khindi, beliau terkenal sebagai filsuf muslim
pertama. Beliau mengarang sebanyak kurang lebih 236 buah kitab tentang ilmu
mantik, filsafat, handasah, hisab, musik, nujum, dan lain-lain. Diantara
karyanya adalah Kimiyatul Itri, Risalah fi Faslain, Risalah fi Illat an Nafs ad
Damm dan lain-lain.
2.
Al-Farabi (870-950 M)
Abu Nashr Muhammad bin Muhammad Tarkhan Al-Farabi, nama filsuf
al-Farabi menjadi terkenal setelah masa al-Khindi. Beliau lahir di Farab pada
tahun 870 M dan wafat di Damaskus pada tahun 95 M. Diantara karyanya yaitu
Tahsilus Sa`adah, Assiyasatul Madaniyah,
Tanbih ala Sabilis Sa`adah dan lain-lain.
3.
Ibnu Sina (980-1037 M)
Ar-Rais Abu Ali Husain bin Abdullah yang lebih terkenal dengan Ibnu
Sina.Beliau lahir di Afsyanah, Bukhara pada tahun 980 M, dan wafat di Hamdan pada tahun 1037
M.Beliau adalah seorang dokter dan filsuf ternama. Ibnu Sina meninggalkan
karyanya sebanyak kurang lebih 200 buah. Diantara karya buku filsafatnya adalah
Al Isyarat wa At Tanbihat, Mantiq Al Masyriqiyyin dan lain-lain.
4.
Ibnu Bajjah (453-523 H)
Abu Bakar Muhammad bin Yahya atau Ibnu Bajjah. Beberapa karyanya
yang bernilai tentang filsafat, antara lain Tadbirul Mutawahhid, Fi an Nafs,
dan Risalatul Ittisal.
5.
Ibnu Rusyd (529-595 H)
Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusydi lahir pada tahun
520 H di Kordova. Diantara karyanya dalam bidang filsafat adalah Mabadiul
Falasifah, Tahafutut Tahafut, Kulliyan dan lain-lain.
6.
Ibnu Thufail (225-287 H)
Abu Bakar bin Abdul Malik bin Thufail, beliau adalah salah seorang
murid Ibnu Bajjah. Diantara karangannya adalah
Hayy bin Yaqzan.
7.
Al-Ghazali (1058-1111 M)
Abu Hamid bin Muhammad at-Tusi al-Ghazali lahir pada tahun 1058 M
dan wafat pada tahun 1111 M. Diantara karyanya adalah Tahafutul Falasifah,
Ar-Risalatul Qudsiyah dan Ilya Ulumuddin.
b.
Bidang Kedokteran
1.
Ibnu Sina (980-1037 M)
Selain sebagai filsuf beliau juga terkenal sebagai seorang dokter. Diantara
kitabnya adalah Asy Syifa` dan Al Qonun Fitthibb.
2.
Ar-Razi (194-264 H)
Abu Bakar bin Zakaria ar-Razi, beliau adalah seorang dokter yang
paling masyhur di zamannya, beliau menjadi ketua dokter di Baghdad. Diantara
kitab karangannya adalah Al Hawi dan Fi Al Judari Wa Al Hasbat.
3.
Ibnu Baytsar (810-878 M)
Beliau adalah ahli farmasi dan kimia. Karyanya yang terkenal adalah
Al-Mughni, Mizanut Thabib dan Jami` Mufradtil Adwiyah wa Aghniyah.
c.
Bidang Matematika
Dalam bidang ini salah satu ahlinya adalah al-Khawarizmi.Buku
pertamanya adalah Al-Jabar (buku pertama yang membahas solusi sistematik dari
lnier dan notasi kuadrat), sehingga beliau disebut sebagai Bapak Aljabar. Kata aljabar
berasal dari kata aljabr, satu dari dua operasi dalam matematika untuk
menyelesaikan notasi kuadrat.
KESIMPULAN
Dinasti
Abbasiyah adalah bentuk kekuasaan pemerintahan yang bekerja meneruskan
pemerintahan Bani Umayyah. Disebut Abbasiyah karena para perancang dan
pendirinya adalah keluarga Abbas (Bani Abbas) bin Abdul Mhuthalib yang
merupakan paman Nabi Muhammad SAW.
Dinasti
Abbasiyah merupakan imperium islam yang pertama kali mencapai kemajuan yang
sangat pesat di dalam ilmu pengetahuan dan sains. Hal ini terjadi karena para
khalifahnya sangat peduli dan perhatian terhadap perkembangan dan kemajuan ilmu
pengetahuan. Usaha awal dimulai dari dibangunnya berbagai lembaga keilmuan
seperti kuttub, masjid, madrasah, majlis munazarah dan yang paling mendukung
adalah dibangunnya Baitul Hikmah sebagai pusat penerjemah, perpustakaan, penelitian,
serta perguruan islam yang mampu memunculkan para ilmuan islam atau tokoh
intelektual muslim.
Para
pemimpin pada masa bani Abbasiyah mempunyai kesadaran ilmu yang sangat tinggi, hal
ini ditunjukkan masyarakatnya yang antusias dalam mencari ilmu, penghargaan
yang tinggi bagi para ulama, para pencari ilmu, tempat–tempat menuntut ilmu, banyaknya
perpustakaan–perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum yang dibangun oleh
para khalifah pada waktu itu, tradisi intelektual inilah yang seharusnya kita
contoh, sebagai usaha sadar keilmuan kita dalam mengejar ketertinggalan dan
segera lepas dari keterpurukan.
Perkembangan
dan kemajuan Daulah Abbasiyah memberikan pelajaran yang sangat berharga akan
pentingnya persatuan dan kesatuan masyarakat demi tercapainya pertahanan dan
keamanan sebuah pemerintahan islam agar dapat dengan tenang dalam
menciptakannya.
DAFTAR PUSTAKA
Asnawi, Muh. Sejarah
Kebudayaan Islam. 2009. Semarang: CV. Aneka Ilmu.
Karim, M Abdul.
Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam.2007. Yogyakarta: Pustaka Book
Publisher.
Sanusi, Ja`far,
dkk. Sejarah Kebudayaan Islam. 2008. Madrasah Aliyah III, Semarang: CV. Wicaksana
Syalabi, Ahmad.
Sejarah dan Kebudayaan Islam III.2000. Jakarta: PT. Al Husna Zikra, cet
ke-3.
Syukur, Fatah. Sejarah
Peradaban Islam. 2009. Semarang: PT. Pustaka Rizki.
Yatim, Badri. Sejarah
Kebudayaan Islam II. Semarang CV. Aneka Ilmu.
http://erna-wati.blogspot.com/faktor-faktor-pendukung-dan-lahirnya.html,
diakses pada 2 Juni 2013, pukul 08:35 wib
[1] M.Abdul Karim,
Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta:Pustaka Book
Publisher, 2007), hal. 143
[2] Fatah Syukur, Sejarah
Peradaban Islam,(Semarang:PT.Pustaka Rizki Putra), hal. 89
[3] Muh.Asnawi, Sejarah
Kebudayaan Islam,(Semarang:CV.Aneka Ilmu,2009), hal. 4
[4] Ja`far Sanusi
dkk, Sejarah Kebudayaan Islam, Madrasah Aliyah 111, (Semarang: CV. Wicaksana),
hal.32
[5] A.Syalabi, Sejarah
dan Kebudayaan Islam III, (Jakarta: PT. Al Husna Zikra, 2000), hal,81-83
[6] Ibid, hal. 95-96
[7] A.Syalabi, op.
cit, hal. 107
[8] A.Syalabi, op.
cit, hal. 144
[9] A.Syalabi, op.
cit, hal. 151