Download makalah ini Disini gratis
1.
Muhammad
Ali Pasya
Muhammad
Ali Pasya adalah seorang keturunan Turki yang lahir di Kawalla, Yunani pada
tahun 1765 dan meninggal di Mesir pada tahun 1849. Orang tuanya bekerja sebagai
seorang penjual rokok, dari kecil Muhammad Ali Pasya sudah harus bekerja. Ia
tidak memperoleh kesempatan untuk masuk sekolah, akibatnya dia tidak pandai
membaca maupun menulis, namun ia adalah seorang anak yang cerdas dan pemberani.
Hal itu terlihat dalam karirnya baik dalam bidang militer ataupun sipil yang
selalu sukses. Setelah dewasa, Muhammad Ali Pasya bekerja sebagai pemungut
pajak dan menjadi menantu Gubernur. Setelah kawin ia diterima menjadi anggota
militer, karena keberanian dan kecakapan menjalankan tugas ia diangkat menjadi
Perwira. Pada waktu penyerangan Napoleon Boneparte ke Mesir, Sultan Turki
mengirim bantuan tentara ke Mesir, diantaranya adalah Muhammad Ali Pasya,
bahkan ia ikut bertempur melawan Napoleon Boneparte pada tahun 1801.[1]
Untuk melawan tentara Napoleon Boneparte yang telah menguasai seluruh Mesir
serta pula telah menyerang Suria.[2]
Rakyat
Mesir melihat kesuksesan Muhammad Ali Pasya dalam pembebasan Mesir dari tentara
Napoleon Boneparte, maka rakyat Mesir mengangkat Muhammad Ali Pasya sebagai
wali Mesir dan mengaharapkan Sultan Turki merestuinya. Pengakuan Sultan Turki
atas usul rakyatnya tersebut baru mendapat persetujuannya dua tahun kemudian,
setelah Turki dapat mematahkan intervensi Inggris di Mesir. Setelah ekspedisi
Napoleon Boneparte, muncul dua kekuatan besar di Mesir yakni kubu Khursyid Pasya
dan kubu Mamluk. Muhammad Ali Pasya mengadu domba kedua kubu tersebut, dan
akhirnya berhasil menguasai Mesir. Rakyat semakin simpati dan mengangkatnya
sebagai wali di Mesir. Posisi inilah kemudian memungkinkan beliau melakukan
perubahan yang berguna bagi masyarakat Mesir. Setelah Muhammad Ali Pasya
mendapat kepercayaan rakyat dan pemerintah pusat Turki, ia menumpas
musuh-musuhnya terutama golongan Mamluk yang masih berkuasa di daerah-daerah
Mesir dan akhirnya Mamluk dapat ditumpas habis. Dengan demikian Muhammad Ali
Pasya menjadi penguasa tunggal di Mesir, akan tetapi lama-kelamaan ia asyik
dengan kekuasaannya, akhirnya ia bertindak sebagai diktator[3].
Pada
waktu Muhammad Ali Pasya meminta kepada Sultan agar Syiria diserahkan
kepadanya, Sultan tidak mengabulkannya. Muhammad Ali Pasya marah dan menyerang
serta menguasai Syiria bahkan serangan sampai ke Turki. Muhammad Ali Pasya dan
keturunannya menjadi raja di Mesir lebih dari satu setengah abad lamanya
memegang kekuasaan di Mesir. Terakhir adalah Raja Farouk yang telah digulingkan
oleh para jenderalnya pada tahun 1953. Dengan demikian berakhirlah keturunan
Muhammad Ali Pasya di Mesir. Salah satu bidang yang menjadi sentral
pembaharuannya adalah bidang-bidang militer dan bidang-bidang yang bersangkutan
dengan bidang militer, termasuk bidang pendidikan. Kemajuan di bidang ini tidak
mungkin dicapai tanpa dukungan ilmu pengetahuan modern. Atas dasar inilah
sehingga perhatian di bidang pendidikan mendapat prioritas utama. Walaupun Muhammad
Ali Pasya tidak pandai baca tulis, tetapi ia memahami betapa pentingnya arti
pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk kemajuan suatu negara. Ini terbukti
dengan dibentuknya Kementerian Pendidikan untuk pertama kalinya di Mesir,
dibuka sekolah militer pada tahun 1815, sekolah teknik pada tahun 1816, sekolah
ketabiban (kedokteran) dan sekolah penerjemahan pada tahun 1836.
Muhammad
Ali Pasya berpendapat bahwa kekuasaan dapat dipertahankan hanya dengan dukungan
militer yang kuat yang dibentuk melalui ekonomi dan pendidikan. Maka pembangunan
pendidikan, ekonomi dan militer segera dilakukan demi kelanggengan kekuasaan di
Mesir. Modernisasi yang dilakukannya antara lain: mengirim mahasiswa ke
Prancis, mendatangkan dosen dari Prancis, mendirikan lembaga-lembaga pendidikan
yang mempelajari ilmu militer, kesehatan, ekonomi dan penerjemahan. Philip K.
Hitti menuliskan berdasarkan catatan sejarah yang ditemukannya antara tahun 1813
sampai 1849, Muhammad Ali Pasya telah mengirimkan 311 mahasiswa yang belajar di
Italia, Prancis, Inggris, Austria atas biaya pemerintah yang mencapai £E.
273.360. Subjek yang dipelajari antara lain: militer dan angkatan laut, teknik
mesin, kedokteran, farmasi (obat-obatan), kesenian, kerajinan dan bahasa
Prancis mempunyai kedudukan khusus dalam kurikulum di Mesir[4].
Harun
Nasution (dalam Martini, 2011:76) menyimpulkan modernisasi di Mesir pada masa
Muhammad Ali Pasya sebenarnya pengetahuan tentang soal-soal pemerintahan,
militer dan perekonomian untuk memperkuat kedudukannya, ia tidak ingin
orang-orang yang dikirimnya tidak boleh lebih dalam menyelami ilmunya sehingga
mahasiswa berada dalam pengawasan yang ketat. Selain mendirikan sekolah beliau
juga mengirim pelajar-pelajar ke Eropa
terutama ke Paris ±300 orang. Setelah itu mereka kembali ke Mesir diberi tugas
menerjemahkan buku-buku Eropa ke dalam bahasa Arab, dan mengajar di
sekolah-sekolah yang ada di Mesir. Philip K. Hitti (dalam Martini, 2011:76) mengemukakan
bahwa Muhammad Ali Pasya tidak hanya menerapkan corak dan model pendidikan
Barat, tapi juga mempercayakan pendidikan kepada orang Barat, bahkan gurunya
kebanyakan didatangkan dari Eropa.
Keberhasilan
di bidang militer telah merubah Mesir menjadi negara modern yang kekuatannya
mampu menandingi kekuatan militer Kerajaan Usmani, serta bermunculanlah para
tokoh intelektual di Mesir yang kelak melanjutkan gagasan-gagasan beliau
khususnya dalam bidang pendidikan. Hal-hal ini memberi gambaran tentang apa
yang dikehendaki Muhammad Ali Pasya sebenarnya, pengetahuan tentang soal-soal
pemerintahan, militer dan perekonomian, yaitu hal-hal yang akan memperkuat
kedudukannya. Ia tak ingin orang-orang yang dikirimnya ke Eropa menyelami lebih
dari apa yang perlu baginya, dan oleh karena itu mahasiswa-mahasiswa itu berada
dibawah pengawasan yang ketat. Mereka tak diberi kemerdekaan bergerak di Eropa.
Tetapi, dengan mengetahui bahasa-bahasa Eropa, terutama Prancis dan dengan
membaca buku-buku Barat seperti karangan-karangan Voltaire, Rousseau,
Montesquieu dan lain-lain, timbullah ide-ide baru mengenai demokrasi, parlemen,
pemilihan wakil rakyat, paham pemerintahan republik, konstitusi, kemerdekaan
berfikir dan sebagainya.
Pada
mulanya perkenalan dengan ide-ide dan ilmu-ilmu baru ini hanya terbatas bagi
orang-orang yang telah ke Eropa dan yang telah tahu bahasa Barat. Kemudian
paham-paham ini mulai menjalar kepada orang-orang yang tak mengerti bahasa
Barat. Pada permulaannya dengan perantaraan kontak mereka dengan
mahasiswa-mahasiswa yang kembali dari Eropa dan kemudian dengan adanya
terjemahan buku-buku Barat itu kedalam bahasa Arab.[5] Penerjemahan
buku-buku mulai berjalan lancar setelah didirikan Sekolah Penerjemahan di tahun
1836. Sekolah ini beberapa tahun kemudian diserahkan kepada pimpinan Rifa’ah
Al-Tahtawi, seorang ulama Azhar yang pernah belajar di Paris dan kemudian
diserahkan ada pengaruhnya dalam penyiaran ide-ide Barat di Mesir. Di sekolah
ini terdapat ahli-ahli yang tahu akan haknya masing-masing. Usaha-usaha
penerjemahan pun mulai membawa hasil yang lebih baik dalam waktu yang lebih
singkat. Bahagian penerjemahan di sekolah ini dibagi empat: Bahagian Ilmu
Pasti, Bahagian Ilmu Kedokteran dan Ilmu Fisika, Bahagian Sastra dan Bahagian
Turki. Yang akhri ini bertugas menterjemahkan buku-buku pedoman militer yang
akan dipakai oleh perwira-perwira Turki yang terdapat dalam angkatan perang
Muhammad Ali Pasya.[6]
Yang
penting diantara bagian-bagian tersebut bagi perkembangan ide-ide Barat ialah
bagian Sastra. Di tahun 1841, diterjemahkan buku mengenai sejarah Raja-raja
Prancis yang antara lain mengandung keterangan tentang Revolusi Prancis. Satu
buku yang serupa diterjemahkan lagi tahun 1847. Sekilas pembaharuan yang
dilakukan oleh Muhammad Ali Pasya hanya bersifat keduniaan saja, namun dengan
terangkatnya kehidupan dunia umat Islam sekaligus terngakat pula derajat
keagamaannya. Pembaharuan yang dilaksanakan oleh Muhammad Ali merupakan
landasan pemikiran dan pembaharuan selanjutnya.[7]
Dari
penerjemahan buku-buku Eropa ini, orang-orang Mesir selanjutnya mulai kenal
pada negara-negara Barat, negara-negara yang dijumpai orang Barat di Timur Jauh
dan Amerika. Dunia yang digambarkan buku-buku Barat itu jauh berlainan dari
dunia mereka kenal dari buku-buku yang dikarang orang Islam di zaman klasik.
Juga mereka mulai kenal dengan falsafat Yunani, kemerdekaan berpikir yang
menjadi dasar falsafat Yunani, adat istiadat Barat yang jauh berlainan dengan
adat istiadat Islam. Jika sebelumnya orang Barat bagi orang Islam adalah
semuanya orang Perancis, sekarang mulai mereka tahu bahwa orang-orang Barat
terdiri dari berbagai bangsa, ada Perancis, Jerman, Inggris, Italia dan
sebagainya.[8]
2.
Al-Tahtawi
Al-Tahtawi
dilahirkan di Thahta, sebuah kota kecil di Mesir tiga tahun setelah Napoleon
Boneparte menginjakkan kakinya di Mesir. Ia melewati masa kecilnya di kota itu,
mempelajari ilmu agama dan mendengarkan cerita-cerita kejayaan Islam masa
silam. Ia selalu tertarik mendengar kisah-kisah semacam itu, satu hal yang
kemudian sangat mempengaruhi perjalanan intelektualnya. Dia adalah seorang
pembawa pemikiran pembaharuan yang besar pengaruhnya di pertengahan pertama
dari abad ke-19 di Mesir. Dalam gerakan pembaharuan Muhammad Ali Pasya,
Al-Tahtawi turut memainkan peranan. Ketika Muhammad Ali Pasya mengambil alih
seluruh kekayaan di Mesir harta orang tua Al-Tahtawi termasuk dalam kekayaan
yang dikuasai itu. ia terpaksa belajar di masa kecilnya dengan bantuan dari
keluarga ibunya. Ketika berumur 16 tahun, ia pergi ke Kairo untuk belajar di
Al-Azhar. Setelah lima tahun menuntut ilmu ia selesai dari studinya di Al-Azhar
pada tahun 1822. Ia adalah murid kesayangan dari gurunya Syaikh Hasan
Al-‘Atthar yang banyak mempunyai hubungan dengan ahli-ahli ilmu pengetahuan
Prancis yang datang dengan Napoleon ke Mesir. Syaikh Hasan Al-‘Atthar melihat
bahwa Al-Tahtawi adalah seorang pelajar yang sungguh-sungguh dan tajam pikirannya,
dan oleh karena itu ia selalu memberi dorongan kepadanya untuk senantiasa
menambah ilmu pengetahuan. Setelah selesai dari study di Al-Azhar, Al-Tahtawi
mengajar disana selama dua tahun, kemudian diangkat menjadi imam tentara di
tahun 1824. Dua tahun kemudian dia diangkat menjadi imam mahasiswa-mahasiswa
yang dikirim Muhammad Ali ke Paris. Di samping tugsnya sebagai imam ia turut
pula belajar bahasa Prancis sewaktu ia masih dalam perjalanan ke Paris.
Pengiriman
mahasiswa ke Paris, telah melahirkan tokoh-tokoh mahasiswa yang brilian seperti
Al-Tahtawi yang pandai bahasa Prancis kemudian ditunjuk menjadi pimpinan dalam
penerjemahan buku-buku teknik dan kemiliteran. Kemudian pada tahun 1836
didirikan sekolah penerjemahan yang kemudian dirubah manjadi sekolah bahasa-bahasa
asing. Al-Tahtawi tugasnya mengoreksi buku-buku yang diterjemahkan
murid-muridnya yang menghasilkan hampir seribu buah buku yang diterjemahkan ke
dalam bahasa Arab. Selain sebagai pemimpin dalam penerjemahan buku-buku asing,
Al-Tahtawi menerbitkan surat kabar resmi yang diberi nama Al-Waqa’i
‘Ul-Mishriyah yang memuat berita-berita tentang kemajuan Barat termasuk
teori-teori politik yang didasarkan kepada keadilan dan kerakyatan. Al-Tahtawi
juga mengarang buku-buku dalam penyebaran pengetahuan modern kepada khalayak
ramai. Di antara beberapa buku terpentingnya: Taukhlisul Ibriz fi talkhishi
Bariz (intisari dan kesimpulan tetntang Paris). Manahijul albab al-Mishriyah fi
manahijil adab al-‘ashriyah (jalan bagi orang Mesir untuk mengetahui literatur
modern), dan buku Al-Mursyidul Amin lil Banati wa-Banin (petunjuk bagi
pendidikan putera dan puteri), buku Al Qaul as Sadid fi al-Ijtihadi wa
al-Taqlid (perkataan yang benar tentang Ijtihad dan Taqlid)[9].
Pemikiran
al-Tahtawi belum deradikal tokoh-tokoh setelahnya, seperti pendidikan puteri
hanya dilakukan di rumah, menyekolahkan wanita masih dihukum makruh, sedangkan
ulama harus mengetahui ilmu modern agar dapat menyesuaikan syariat dengan
kebutuhan modern, yang pada konsekuansinya mengandung arti ijtihad masih
terbuka, akan tetapi belum berani dijelaskan secara terang-terangan karena
masih dianggap radikal pada saat itu. Al-Tahtawi tinggal di Prancis selama lima
tahun. Sekembalinya ke Mesir, ia menuliskan pengalaman hidupnya selama berada
di Paris dalam sebuah buku yang kemudian menjadi salah satu sumber penting
sejarah pemikiran modern dalam islam. Yakni, Takhlis al-Ibriz ila Talkhis
bariz. Dalam buku ini, Al-Tahtawi memuji pencapaian yang dilakukan negara-negara
Eropa, khususnya Prancis. Ia menggambarkan kondisi Prancis yang bersih,
anak-anak yang sehat, orang-orang yang sibuk bekerja, semangat belajar yang
terpancar dari wajah kaum mudanya, dan kelebihan-kelebihan lainnya yang ia
saksikan selama berada di Prancis. Selain memberikan pujian, Al-Tahtawi juga
memberikan beberapa kritikan terhadap masyarakat Prancis. Ia mengatakan bahwa
kaum pria di negeri itu telah menjadi budak para wanitanya dan orang-orang
Prancis pada umumnya sangat materialistis. Begitu menginjakkan kakinya di bumi
Mesir, Al-Tahtawi bertekad untuk memajukan tanah airnya. Memori Prancis dengan
segala keindahan dan kedisiplinan warganya selalu menjadi obsesinya. Bukunya
takhlis yang diterbitkan hanya beberapa bulan setelah kedatangannya di Mesir
adalah salah satu bukti dari tekadnya yang begitu kuat untuk meng-Eropakan
Mesir. Di Kairo, ia mendirikan lembaga penerjemahan yang disebut Sekolah
Bahasa.
Lembaga
ini mirip dengan fungsi Bayt al-Hikmat pada masa-masa awal kerajaan Abbasiyyah.
Al-Tahtawi sendiri menerjemahkan sekitar 20 buku berbahasa Prancis yang
mengedit puluhan karya terjemahan lainnya. Sebagian besar buku-buku sejarah,
filsafat, dan ilmu kemiliteran. Buku penting yang diterjemahkannya sendiri
adalah Considerations sur les Causes de la Grandeur des Romains et de leur
Decadence karya filsuf Prancis Montesquieu. Beliau sangat berjasa dalam
meningkatkan ilmu pengetahuan di Mesir, karena menguasai berbagai bahasa asing
berhasil mendirikan sekolah penerjemahan dan menjadikan bahasa asing tertentu
sebagai pelajaran wajib di sekolah. Di antara pendapat baru yang dikemukakannya
adalah ide pendidikan yang universal. Sasaran pendidikannya terutama ditujukan
kepada pemberian kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan di tengah
masyarakat. Menurutnya, perbaikan pendidikan hendaknya dimulai dengan
memberikan kesempatan belajar yang sama antara laki-laki dan perempuan, sebab
perempuan itu memegang posisi yang menentukan dalam pendidikan. Wanita yang
terdidik akan menjadi isteri dan ibu rumah tangga yang berhasil. Mereka yang
diharapkan melahirkan putera-puteri yang cerdas[10].
Al-Tahtawi
mengatakan, pendidikan itu sebaiknya dibagi dalam tiga tahapan. Tahap 1 adalah
pendidikan dasar, diberikan secara umum kepada anak-anak dengan materi
pelajaran dasar tulis baca, berhitung, al-Qur’an, agama, dan matematika. Tahap
2, pendidikan menengah, materinya berkisar pada ilmu sastra, ilmu alam,
biologi, bahasa asing, dan ilmu-ilmu keterampilan. Tahap 3, adalah pendidikan
tinggi yang tugas utamanya adalah menyiapkan tenaga ahli dalam berbagai
disiplin ilmu. Pada proses belajar mengajar, Al-Tahtawi menganjurkan
terjalinnya cinta dan kasih sayang antara guru dan murid, laksana ayah dan
anaknya. Pendidik hendaknya memiliki kesabaran dan kasih sayang dalam proses
belajar mengajar. Ia tidak menyetujui penggunaan kekerasan, pemukulan, dan
semacamnya, sebab merusak perkembangan anak didik. Buku-buku yang diterjemahkan
oleh Al-Tahtawi memperlihatkan kecenderungan dan kesukaan Tahtawi terhadap
filsafat politik. Satu tema yang kemudian menjadi isu sentral dari
pemikiran-pemikirannya, khususnya ketika ia berbicara tentang kondisi Mesir dan
bangsa Arab modern. Tapi lembaga penerjemahan yang sangat berjasa itu harus
ditutup, ketika penguasa Mesir dan juga cucu Muhammad Ali, Abbas Hilmi I, mulai
tidak menyukainya dan membuangnya ke Khortoum, Sudan. Baru pada pemerintahan
Sa’id anak keempat Muhammad Ali menggantikan kemenakannya, ia diperbolehkan
pulang ke Kairo dan kembali memegang peranan dalam gerakan penerjemahan buku-buku
asing.
Pada
pemerintahan Ismail, cucu Muhammad Ali yang lain, Tahtawi dilibatkan berbagai
kegiatan ilmiah, termasuk menjadi anggota komisi penerbitan pemerintah di
Boulaq yang kemudian populer dengan sebutan “mathba’ah boulaq”. Di Boulaq,
Tahtawi memberi banyak masukan buku-buku berbahasa Arab klasik yang perlu
diterbitkan. Di antaranya al-Muqaddimah karya Ibnu Khaldun yang populer itu. di
samping kesibukannya sebagai penerjemah dan mengawasi proyek penerjemahan,
Tahtawi masih menyempatkan menulis beberapa buku penting. Di antaranya
al-Mursyid al-Amin li al-Banat wa al Banin yang ditulis untuk generasi muda dan
Manahij al-Albab al-Mishriyya fi Mabahij al-Adab al-‘Ashriyya tentang sosiologi
Mesir. Dalam hal agama dan peranan ulama, al-Tahtawi menghendaki agar para
ulama selalu mengikuti perkembangan dunia modern dan mempelajari berbagai ilmu
pengetahuan modern. Di antara hasil-hasil karyanya yang terpenting adalah:
1)
Takhlisul Abriiz Ila
Takhrisu Bariiz.
2)
Manahijul Bab
Al-Mishriyal fi Manahijil Adab al-Ashriyah.
3)
Al-Mursyid al-Amin lil
Banaat wal Banien.
4)
Al-Qaulus sadid fi
ijtihad wat taliid.
5)
Anwar taufiq al-jalil
fi akhbari mishra wa tautsiq bani Isra’il[11].
3.
Jamaluddin
Al-Afgani
Jamaluddin
al-Afgani lahir di Asadabad Afganistan pada tahun 1838 sebagai seorang anak
dengan kualitas Intelektual yang sangat luar biasa. Ia meninggal dunia pada
tahun 1897 M. berdasarkan silsilah keturunannya al-Afgani adalah keturunan Nabi
melalui Sayyidina Ali ra. Ia bergelar sayyid menunjukan ia berasal dari
keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib. Disamping itu ia juga dikenal dengan
nama Asadabadi.[12]
Pada umur 18 tahun ia telah menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan,
filsafat, politik, ekonomi, hukum dan agama. Karena keluasan ilmu pengetahuan
yang dimilikinya, maka pada saat umur 18 tahun tersebut ia telah mempesona
dunia intelektual dan politik dengan gaya agitasinya yang sungguh menakjubkan.
Ketika baru berusia 22 tahun ia telah menjadi pembantu bagi pangeran Dost
Muhammad Khan di Afganistan. Di tahun 1864 ia menjadi penasehat Sher Ali Khan.
Beberapa tahun kemudian ia diangkat oleh Muhammad A’zam Khan menjadi Perdana
Menteri. Pengaruh agitasinya telah melahirkan suatu revolusi di Afganistan
(Kabul) yang memaksa dia harus mengungsi ke India untuk kali pertama pada tahun
1867, sebagai awal dari pertualangan kemuliaan dan politiknya.
Jamaluddin
Al-Afgani adalah seorang pemimpin pembaharuan dalam Islam yang tempat tinggal
dan aktivitasnya berpindah dari satu negara ke negara Islam lainnya. Pengaruh
terbesar ditinggalkan di Mesir. Ketika zaman Al-Tahtawi buku-buku diterjemahkan
sudah menyebar dan di dalamnya terdapat salah satu ide trias politika dan
patriotisme, maka pada tahun 1879 Al-Afgani membentuk partai al-Hizb al-Wathan
(Partai Nasionalis) dengan slogan Mesir untuk orang Mesir mulai kedengaran
dengan memperjuangkan universal, kemerdekaan pers dan pemasuka unsur-unsur
Mesir ke dalam bidang militer. Di India, ia juga merasa tidak bebas untuk
bergerak karena negara ini telah jatuh ke bawah kekuasaan Inggris, nampaknya
India adalah sebuah persinggahan sementara, karena ternyata pengaruh Jamaluddin
telah menumbuhkan semangat kebangsaan untuk melawan Inggris, yang sudah barang
tentu sangat dibenci oleh mereka. Maka pada tahun 1871 ia pergi ke Mesir untuk
lkali ke dua dan menetap di sana selama 8 tahun (1879). Pada mulanya menjauhi
persoalan-persoalan politik Mesir dan memusatkan perhatian pada bidang ilmiah
dan sastra Arab. Di tempat ia tinggal kemudian menjadi tempat pertemuan
murid-muridnya. Disanalah ia memberikan kuliah dan mengadakan diskusi. Muridnya
berasal dari berbagai golongan, seperti orang pemerintahan, pengadilan, dosen
dan mahasiswa Al-Azhar serta perguruan tinggi lain. Tetapi ia tidak lama dapat
meninggalkan lapangan politik[13].
Tahun
1876 turut campur tangan Inggris dalam soal politik di Mesir makin meningkat.
Ketika itu ide-ide Al-Tahtawi sudah mulai meluas di kalangan masyarakat Mesir,
di antaranya ide trias politica dan patriotisme, maka pada tahun 1879 atau
usahanAl-Afgani terbentuklah partai Al-Hizb al-Watani (partai nasional). Tujuan
partai ini untuk memperjuangkan pendidikan universal dan kemerdekaan pers. Atas
sokongan partai ini Al-Afgani berusaha menggulingkan Raja Mesir yang berkuasa
waktu itu, yakni Khedewi Ismail. Masa 8 tahun menetap di Mesir itu mempunyai
pengaruh yang tidak kecil bagi umat Islam disana menurut Madkur (dalam Martini
2010:88) Al-Afganilah yang membangkitkan gerakan berpikir di Mesir sehingga
negara ini dapat mencapai kemajuan “Mesir modern”, demikian Madkur”, adlah
hasil dari usaha-usaha Jamaluddin Al-Afgani. Selama 8 tahun menetap di Mesir ia
pergi ke Paris, disini ia mendirikan perkumpulan “Al-Urwatul Wusqa” yang
anggotanya terdiri dari orang-orang Islam dari India, Mesir, Suria, Afrika
Utara dan lain-lain. Diantara tujuan yang ingindicapai ialah memperkuat rasa
persaudaraan Islam, membela Islam dan membawa Islam kepada kemajuan. Kemudian
di Paris inilah ia bertemu dengan muridnya yang setia yaitu Muhammad Abduh dan
kemudian ia kembali ke Istambul, sampai akhir hayatnya. Selama di Mesir Al-Afgani
mengajukan konsep-konsep pembaharuannya, antara lain:
1)
Musuh utama adalah
penjajahan (Barat), hal ini tidak lain dari lanjutan perang Salib.
2)
Umat Islam harus
menantang penjajahan dimana dan kapan saja.
3)
Untuk mencapai tujuan
itu umat Islam harus bersatu (Pan Islamisme).
Pan
Islamisme bukan berarti leburnya kerajaan-kerajaan Islam menjadi satu, tetapi
mereka harus mempunyai satu pandangan bersatu dalam kerja sama. Persatuan dan
kerja sama merupakan sendi yang amat penting dalam Islam. Untuk mencapai usaha-usaha
pembaharuan tersebut di atas menurut Al-Afgani:
1)
Rakyat harus
dibersihkan dari kepercayaan ketakhayulan.
2)
Orang harus yakin bahwa
ia dapat mencapai tingkat atau derajat budi luhur.
3)
Rukun Iman harus betul-betul
menjadi pandangan hidup, dan kehidupan manusia bukan sekedar ikutan belaka.
4)
Setiap generasi umat
harus ada lapisan istimewa untuk memberikan pengajaran dan pendidikan pada
manusia-manusia bodoh dan juga menerangi hawa nafsu jahat dan menegakkan
disiplin.
Melihat
hal tersebut, maka orientasi pembaharuan Islam Mesir terutama yang dilakukan
oleh Jamaluddin Al-Afgani lebih mengarah kepada pembaharuan cara berpolitik di
kalangan umat Islam. oleh sebab itu, gerakan pembaharuan Mesir Jamaluddin
Al-Afgani adalah gerakan politik. Untuk mengetahui lebih jelas pemikiran
pembaharuan Jamaluddin Al-Afgani, berikut ini pokok-pokok pemikirannya[14]:
1)
Islam mengalami
kemunduran dan kemajuan berfikir bukan disebabkan oleh karena Islam tidak lagi
sesuai dengan perkembangan zaman, situasi dan keadaan masa kini, melainkan
karena umat Islam tidak mampu menginterpretasikannya dengan kemampuan ijtihad
dan kebanyakan umat Islam telah meninggalkan ajarannya dengan mengikuti ajaran
baru yang dimanipulisir untuk kepentingan asing.
2)
Bahwa kemunduran Islam
di lapangna politik disebabkan oleh: Desintegrasi politik atau perpecahan di
kalangan umat Islam, corak pemerintahan yang bersifat absolut (otoriter),
pemimpin negara yang tidak disukai oleh rakyat (tidak kredible), mengabaikan
masalah pertahanan atau militerisasi, administrasi dipegang oleh mereka yang
tidak berkompenten, adanya intervensi oleh negara asing. Untuk itu diperlukan
pola pemerintahan yang dapat menarik partisipasi masyarakat secara aktif dalam
bentuk demokratisasi dan terbentuknya majlis syuro yang menjamin adanya
partisipasi masyarakat secara komunal dan individual.
3)
Bahwa untuk pembaharuan
dan pengembangan keIslaman perlu digalakan solidaritas Islam dalam bentuk
program aksi “Pan Islamisme”. Gerakan Pan Islamisme tersebut berusaha melakukan
pembaharuan di bidang perpolitikan Islam dengan tujuan menyadarkan umat Islam
dari bahaya dominasi bangsa asing. Oleh sebab itu perlu diadakan
kegiatan-kegiatan: agitasi dan propoganda untuk menggerakkan kaum muslimin agar
melakukan peregerakan pemikiran dan pergolakan kebangsaan, melakukan gerakan
anti Eropa mulai tahun 1882 sebagai reaksi masuknya Inggris pada tahun 1880.
Al-Afgani
terus mencoba meyakinkan orang-orang Eropa, bahwa nasionalisme dan patriotisme
bukanlah sebuah gerakan fanatisme dan ekstrimisme, penghargaan dan kemulyaan
diri yang sedang diperjuangkan bukanlah sebuah chauvinisme seperti yang dituduhkan oleh bangsa asing. Untuk
mensosialisasikan dan mengembangkan gagasan pembaharuan politik, maka didirikan
media “Al Urwat Al Wutsqo” yang didirikan di Prancis pada tahun 1884 bersama
muridnya yaitu Muhammad Abduh, yang hanya berumur 8 bulan, tetapi mempunyai
dampak yang luar biasa, yaitu: berkembangnya semangat menentang bangsa Barat,
adanya usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaan Islam, adanya semangat untuk
mempersatukan umat Islam di dunai (Pan Islamisme). Di bidang politik,
Jamaluddin Al-Afgani mengatakan bahwa pemerintahan yang baik adalah
pemerintahan yang didukung oleh rakyat, karena pemerintahan yang didukung oleh
konstitusi akan dapat berdiri, berjalan stabil dan dapat bertahan dari
intrik-intrik bangsa asing. Sedangkan dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan
yang dapata menundukkan suatu bangsa, dan ilmu pula sebenarnya yang berkuasa di
dunia ini yang kadangkala berpusat di Timur ataupun di Barat. Ilmu juga yang
mengembangkan pertanian, industri dan perdagangan, yang menyebabkan penumpukkan
kekayaan dan harta. Tetapi filsafat menurutnya merupakan ilmu yang paling
terasa kedudukannya di antara ilmu-ilmu yang lain. Ketika ia kembali lagi ke
India tepatnya di Hyderabad Deccau, pada tahun 1879 dan menerbitkan sebuah buku
yang sempat menggerakkan dunia Barat yaitu “Pembuktian kesalahan kaum
Matrialis”[15].
Pokok-pokok
pikir yang dikembangkan oleh Jamaluddin Al-Afgani yang pernah dikembangkan pada
awal abad ke-19. Prinsip pemikiran tersebut oleh Jamaluddin Al-Afgani
dikembangkan dengan radikal dan revolusioner. Barangkali hal tersebut
disebabkan bahwa gerakan pembaharuan Islam ala Jamaluddin Al-Afgani adalah
gerakan politik yang tentu menempatkkan jargon anti dominasi Barat sebagai
agenda aksinya. Pada tahun 1892 ia kembali ke Istambul dan mendapat sambutan
yang luar biasa dari kerajaan Turki Utsmani dengan diberi hadiah uang 775 pound
dan tempat tinggal yang sangat layak, akan tetapi jiwa Jamaluddin Al-Afgani
bukanlah jiwa konseptor yang hanya duduk di belakang meja, tetapi jiwa dia
adalah konseptor dan petualang, maka ia kemudian pergi ke Paris untuk
membangkitkan semangat perlawanan rakyat, mengkritik habis pola pemerintahan
otokrasi Shah Nasiruddin Qochar, yang ternyata efektif membangkitkan perlawanan
rakyat, sehingga Shah Qachar terbunuh pada 1 Mei 1895 dalam pergolakan rakyat
tersebut.
Pembaharuan
Islam yang ditawarkan Jamaluddin Al-Afgani adalah sesuai untuk semua bangsa,
semua zaman dan semua keadaan. Seandainya, ada pertentangan antara ajaran agama
dengan keadaan maka dibutuhkan interpretasi baru yang tercantum dalam Al-Qur’an
dan Al-Hadits. Kemunduran Islam bukan karena Islamnya, akan tetapi karena umat
Islam meninggalkan ajaran yang sebenarnya dan mengikuti ajaran-ajaran dari luar
lagi asing bagi Islam. Pemahaman iman kepada qada dan qadar tidak diubah
menjadi fatalisme, akan tetapi mengandung arti sebab musabab. Jalan untuk
memperbaiki keadaan umat Islam yang mengalami kemunduran, menurut Jamaluddin
Al-Afgani harus dengan cara melenyapkan pengertian yang salah, kembali kepada
ajaran dasar Islam yang sebenarnya, hati disucikan, budi pekerti luhur
dihidupkan dan kesediaan berkorban untuk kepentingan umat, serta bentuk
pemerintahan otokrasi harus diubah menjadi demokrasi dengan mengutamakan
musyawarah[16].
Pan
Islamisme yang ditawarkan Jamaluddin Al-Afgani bukan berarti leluhurnya
sekalian kerajaan Islam yang ada menjadi satu kerajaan. Biar masing-masing
kerajaan itu berdiri sendiri dalam batas kuasa dan negara masing-masing, tetapi
mereka harus mempunyai satu pandangan hidup. Kesatuan pandangan hidup itu
kembali kepada ajaran Islam. perbedaan paham agama, madzhab-madzhab dan
firqah-firqah janganlah menjadi penghambat dari pada kesatuan kaum Sunnah dan
Syi’ah. Pembaharuan pendidikan yang dilakukan Jamaluddin Al-Afgani adalah
didasari pada pendapatnya bahwa islam adalah relevan pada setiap zaman, kondisi
dan bangsa. Untuk itu kemunduran umat islam adalah karena tidak diterapkannya
Islam dalam segala segi kehidupan dan meninggalkan ajaran Islam murni. Jalan
untuk memperbaiki kemunduran islam hanyalah dengan membuang segala bentuk
pengertian yang bukan berasal dari islam, dan kembali pada ajaran Islam murni.
Setelah itu beliau juga dikenal sebagai pejuang prinsip egaliter yang
universal. Salah satu gagasan Jamaluddin Al-Afgani adalah persamaan manusia
antara laki-laki dan perempuan. Menurutnya keduanya mempunyai akal untuk
berpikir, maka tidak ada tantanagn bagi wanita bekerja di luar jika situasi
menginginkan. Ini membuktikan bahwa pendidikan bagi beliau mendapat prioritas
utama agar umat Islam bisa menuntut ilmu tidak dibatasi kepada laki-laki saja
melainkan perempuan pun harus ikut andil dalam bidang pendidikan tersebut.
Kemudian, pada atahun 1892 ia pergi ke Istanbul atas undangan Sultan Abdul
Hamid, namun kemudian ia terjebak dan tidak bisa keluar dari Istanbul karena
dijadikan tahanan hingga ia wafat pada 9 Maret tahun 1897.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pemaparan materi di atas dapat disimpulkan
bahwa setiap tokoh-tokoh pembaharuan di Mesir memiliki peranan masing-masing di
zamannya. Begitu pula dengan keahlian-keahlian khusus dalam bidang polik, ilmu
pemgetahuan, kemiliteran dan sebagainya sehingga mampu menopang sebuah
peradaban menjadi lebih maju dan berpikir kritis. Secara umum, penulis
menyimpulkan bahwa perjuangan Muhammad Ali pasya (1765-1849 M) bukanlah
orang yang pandai dalam hal pengetahuan baca tulis. Akan tetapi Ia memiliki
kemampuan yang kuat dalam hal keberanian dan kecerdasan sehingga membuatnya
bergabung dalam pemeerintahan militer pada waaktu itu. Pengaruh Ali yang
terbesar di mesir yakni dengan menyatukan kembali kekuasaan mesir dari kaum
Mamluk dan kaum Khursyid pasya sehingga tercipta pemerintahan tunggal. Selain
itu ia juga banyak mengirimkan para mahasiaswa-mahasiswa ke Eropa untuk
menuntut ilmu demi kemajuan Mesir.
Kemudian terdapat tokoh At-Tahtawi sebagai tokoh
pembawa perubahan. Ia adalah seorang yang rajin dan cerdas dalam menuntut ilmu,
mulai dari belajar di Al-Azhar sampai ke Paris, Perancis. Ia hidup di zaman
pemerintahan ali Pasya dan keturunannya. Gebrakan yang ia dapat dari belajar di
perancis yakni sebagai ahli bahasa yang banyak menerjemahkan karya-karya bahasa
Perancis ke dalam bahasa Arab selain itu, ia juga berkeinginan untuk
meng-Eropakan mesir dengan kemajuan ilmu pengetahuannya.
Terakhir yakni Jamaluddin al-Afghani (1838-1897 M),
ia adalah seorang ahli dalam bidang pengetahuan, filsafat, politik, ekonomi,
hukum, dan agama. Ia berperan sebagai seorang yang mempunyai agitasi yang
banyak memuat pergerakan-pergerakan demokratis dan nasionalis yang diadobsi
dari Montesque dari Eropa sebagai hasil penerjemahan karya asing. Selain itu ia
juga berperan dalam pembentukan Mesir modern dengan memerdekakan pers dan
pendidikan yang universal.
B.
SARAN
Dalam penulisan karya tulis ini, penulis menyadari
masih terdapat kekurangan-kekurangan dalam aspek penulisannya sehingga masih
dibutuhkan kritik dan saran yang membangun demi penulisan yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Hamid, Abdul dan Yahya 2010. Pemikiran Modern Dalam Islam. Bandung.
Pustaka Setia.
Martini,
Eka. 2011. Pemikiran Modern Dalam Islam. Palembang: IAIN Raden Fatah. Nasution,
Harun. 1990. Pembaharuan dalam Islam.
Jakarta: Bulan Bintang.
[1] Eka Martini. Pemikiran
Modern Dalam Islam. (Palembang: IAIN Raden Fatah. 2011). Hal 73
[2] Harun Nasution. Pembaharuan dalam Islam. (Jakarta: Bulan
Bintang, 1990). H. 34.
[3] Eka Martini, Ibid.
Hal. 74
[5] Ibid, hal.
78
[9] Eka Martini, Ibid. hal. 81
[10] Ibid. Hal. 83
[11] Ibid. Hal.85
[12] Abdul Hamid
dan Yahya. Pemikiran Modern Dalam Islam. (Bandung. Pustaka Setia.
2010).hal 243
[13] Eka Martini, Ibid,
hal.87
[14] Ibid, Hal.90
[15] Ibid, hal
92
[16] Ibid, hal. 94