Makalah Sejarah Pendidikan Islam : Pendidikan Pada Masa Bani Umayyah


Download makalah ini disini gratis


PENDAHULUAN

Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk mengenalkan islam ini diutus rasulullah saw. Tujuan utamanya adalah memperbaiki manusia untuk kembali kepada allah swt. Oleh karena itu selama kurang lebih 23 tahun rasulullah saw membina dan memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada allah swt. Pendidikan merupakan kata kunci untuk setiap manusia agar ia mendapatkan ilmu. Hanya dengan pendidikanlah ilmu akan didapat dan diserap dengan baik. Terutama apabila kita mengetahui pendidikan yang telah diajarkan oleh rasulullah saw dan para sahabatnya.
Sejarah pendidikan islam memiliki dua kegunaan yaitu yang bersifat umum yaitu sebagai factor keteladanan dan bersifat akademis yaitu memberikan perbendaharaan perkembangan ilmu pengetahuan (teori dan praktik).
            periode kekuasaan daulah umayyah (661-750 m)
 di sini kami membahas sejarah pendidikan islam pada masa periode bani umayyah (661-750 m). Yang meliputi: kurikulum pendidikan, metode pembelajaran, profil pendidik, tempat-tempat berlangsungnya proses pendidikan,  serta kebijakan pemerintah pada masa itu.




PEMBAHASAN

A.    Pengertian sejarah pendidikan islam
Secara etimologi sejarah berasal dari kata syajarotun yang berarti pohon. dalam bahasa arab disebut dengan tarih, yang menurut bahasa berarti ketentuan masa. Sedang menurut termonologi berarti keterangan yang telah terjadi dikalanganya pada masa yang telah lampau atau pada masa yang masih ada. dalam bahasa inggris sejarah di sebut history, yang mempunyai arti pengalaman masa lampau dari pada umat manusia (the past experience of mankind). Menurut ibnu khaldun, sejarah didefinisikan sebagai catatan tentang masyarakat umum manusia atau peradaban manusia yang terjadi pada watak/sifat masyarakat itu. Sedangkan roeslan abdulgani berpendapat ilmu sejarah adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau beserta kejadian-kejadian dengan maksud untuk kemudian menilai secara kritis seluruh hasil penelitiannya tersebut, untuk selanjutnya dijadikan perbendaharaan pedoman bagi penilaian dan penentuan keadaan sekarang serta arah proses masa depan.
Pokok persoalan sejarah senantiasa akan sarat dengan pengalaman-pengalaman penting yang menyangkut perkembangan keseluruhan keadaan masyarakat. Oleh karenanya sayid quthub berbicara dalam bukunya “konsepsi sejarah dalam islam” bahwa sejarah bukanlah peristiwa-peristiwa, melainkan tafsiran peristiwa-peristiwa itu, dan pengertian mengenai hubungan nyata dan tidak nyata, yang menjalain seluruh bagian serta memberinya dinamisme dalam waktu dan tempat.
Melihat dari beberapa uraian sejarah diatas, maka dapat dirumuskan bahwa sejarah pendidikan islam yaitu keterangan mengenai pertumbuhan dan perkembangan islam dari waktu ke waktu, sejak lahirnya agama islam sampai sekarang. Atau dengan kata lain sejarah pendidikan islam yaitu suatu cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam, baik dari segi ide dan konsepsi maupun segi institusi dan operasionalisasi mulai dari zaman nabi muhammad saw sampai saat ini yang mampu menjadikan pelajaran bagi kita di zaman ini.

B.     Awal berdirinya bani umayyah
Nama bani umayyah berasal dari nama “umayyah ibn abdi syams ibnu abdi manaf, yaitu salah seorang pemimpin-pemimpin kabilah quraisy di zaman jahiliyah. Dinasti umayyah didirikan oleh mu’awiyah bin aby sufyan, dan berkuasa sejak tahun 661 sampai tahun 750 masehi dengan ibukota damaskus. Ia juga mengganti sistem pemerintahan muslim yang semula bersistem musyawarah (demokrasi) menjadi sistem monarchy herdity (kekuasaan turun-temurun).
Pendirian bani umayyah dilakukanya dengan cara menolak ali menjadi khalifah, berperang melawan ali dan melakukan perdamaian (tahkim) dengan pihak ali yang secara politik menguntungkan mu’awiyah. Keberuntungan muawiyyah berikutnya adalah keberhasilan pihak khawarij membunuh khalifah ali r.a. sehingga jabatan khalifah setelah ali dipegang oleh putranya yaitu hasan ibn ali selama beberapa bulan akan tyetapi karena tidak didukung pasukan yang kuat sedangkan pihak muawiyah semakin kuat akhirnya dia melakukan perjanjian dengan hasan ibn ali, isi perjanjian itu adalah bahwa pergantian pemimpin akan di serahkan kepada umat islam setelah masa kepemimpinan muawiyah berakhir. Perjanjian ini dibuat pada tahun 661 m (41 h.) Dan tahun ini disebut ‘am jamaat, karena perjanjian ini mempersatukan umat islam menjadi satu kepemimpinan politik yaitu kepemimpinan muawiyyah.
Dinasti umayyah dibedakan menjadi dua: pertama, dinasti umayyah yang dirintis oleh muawiyah bin abi sufyan (661-680m) yang berpusat di damaskus (syiria). Fase ini berlangsung sekitar satu  abad yang mengubah system pemerintahan dari khilafah menjadi monarki (mamlakat). Kedua, dinasti umayah di andalusia, yang awalnya merupakan wilayah taklukan umayyah yang di pimpin seorang gubernur pada zaman walid bin abdul malik (86-96 h/705-715 m)  yang kemudian menjadi kerajaan.


C.     Pendidikan islam pada masa bani umayyah
                  Kemajuan dalam bidang pendidikan yang dicapai pada masa Dinasti Bani Umayyah berkaitan erat dengan stabilnya situasi politik dalam negeri pemerinahan Islam yang dikendalikan oleh Dinasti Umayyah. Pada masa Bani Umayyah berkuasa, pelaksanaan pendidikan Islam semakin meningkat dari masa-masa sebelumnya. Kalau pada asa Nabi dan Kulafa Al-Rasyidin pendidikan Islam di laksanakan di Khuttab, di rumah-rumah, dan di masjid-masjiid maka pada masa Dinasti Umayyah penguasa Dinasti Ini sering menyelenggarakan majlis-majlis keilmuan, Syalabi menjelaskan bahwa khalifah pertama dinasti Bani Umayyah, Muawiyah bin Abu Sofyan sering mengadakan majlis dengan mengundang ulama, sastrawan, dan ahli sejarah untuk menerangkan kepada khalifah sejarah bahasa Arab melalui syair-syair Arab, cerita-cerita Persia dan sistem pemerintahan ataupun administrasi kerajaan Persia.[1]
                  Di samping berkembangnya bahasa Arab, kecenderungan untuk memahami al-qur’an dan ajaran Islam lainnya membuat orang-orang yang ditaklukkan umat Islam membutuhkan bahasa Arab. Dan banyaknya orang-orang non Arab yang menimbulkan dialek-dialek yang bisa merusak bahasa Arab, mendorong umat Islam untuk mengembangkan bahasa Arab. Faktor-faktor ini menyebabkan besarnya tuntutan mepelajari bahasa Arab sehingga lahirlah ilmu bahasa Arab. Tokoh-tokohnya yang terkenal antara lain Abu al-Aswad al-Duali dan sibawaih.[2]
Secara esensial, pendidikan islam pada masa ini hampir sama dengan pendidikan pada periode khulafaur rasyidin. Namun pada masa bani umayyah ini pendidikan islam lebih mengalami perkembangan yang cukup signifikan, diantaranya dapat di uraikan pada pembahasan berikut:
1.      Kurikulum pendidikan islam pada masa bani umayyah
Pada masa dinasti umayyah pola pendidikan bersifat desentrasi. Desentrasi artinya pendidikan tidak hanya terpusat di ibu kota negara saja tetapi sudah dikembangkan secara otonom di daerah yang telah dikuasai seiring dengan ekspansi teritorial. pada masa bani umayyah, pakar pendidikan islam menggunakan kata al-maddah untuk pengertian kurikulum. Karena pada masa itu kurikulum lebih identik dengan serangkaian mata pelajaran yang harus diberikan pada murid dalam tingkat tertentu.
Sejalan dengan perjalanan waktu pengertian kurikulum mulai berkembang dan cakupannya lebih luas, yaitu mencakup segala aspek yang mempengaruhi pribadi siswa. Kurikulum dalam pengertian yang modern ini mencakup tujuan, mata pelajaran, proses belajar dan mengajar serta evaluasi. Berikut ini adalah macam-macam kurikulum yang berkembang pada masa bani umayyah:
a.         Kurikulum pendidikan rendah
Terdapat kesukaran ketika ingin membatasi mata pelajaran-mata pelajaran yang membentuk kurikulum untuk semua tingkat pendidikan yang bermacam-macam. Pertama, karena tidak adanya kurikulum yang terbatas, baik untuk tingkat rendah maupun untuk tingkat penghabisan, kecuali alquran yang terdapat pada kurikulum. Kedua, kesukaran diantara membedakan fase-fase pendidikan dan lamanya belajar karena tidak ada masa tertentu yang mengikat murid-murid untuk belajar pada setiap lembaga pendidikan. Sebelum berdirinya madrasah, tidak ada tingkatan dalam pendidikan islam, tetapi tidak hanya satu tingkat yang bermula di kuttab dan berakhir di diskusi halaqah. Tidak ada kurikulum khusus yang diikuti oleh seluruh umat islam. Dilembaga kuttab biasanya diajarkan membaca dan menulis disamping alquran. Kadang diajarkan bahasa, nahwu, dan arudh.
b.           Kurikulum pendidikan tinggi
Kurikulum pendidikan tinggi (halaqah) bervariasi tergantung pada syaikh yang mau mengajar. Para mahasiswa tidak terikat untuk mempelajari mata pelajaran tertentu, demikian juga guru tidak mewajibkan kepada mahasiswa untuk mengikuti kurikulum tertentu. Mahasiswa bebas untuk mengikuti pelajaran di sebuah halaqah dan berpindah dari sebuah halaqah ke halaqah yang lain, bahkan dari satu kota ke kota lain. Menurut rahman, pendidikan jenis ini disebut pendidikan orang dewasa karena diberikan kepada orang banyak yang tujuan utamanya adalah untuk mengajarkan mereka mengenai alquran dan agama. kurikulum pendidikan tingkat ini dibagi kepada dua jurusan, jurusan ilmu-ilmu agama (al-ulum al-naqliyah) dan jurusan ilmu pengetahuan (al-ulum al-aqliyah).

2.      Pola pendidikan islam pada masa bani umayyah
            Dinasti Bani Umayyah menerapkan pola pendidikan yang bersifat desentralisasi serta tidak memiliki tingkatan dan standar umum. Pendidikan pada masa ini juga tidak berpusat di Mdinah seperti pada masa Khulafa’urrasyidin, melainkan di beberapa kota besar lainnya (Muhammad Yunus, 1992 : 29-33). Dimasa inipun terjadi perbedaan dengan masa sebelumnya dalam hal penggajian guru, penguasa membayar dan menggaji guru untuk mengajar putranya bahkan disediakan tempat mukim untuk guru di istana. Kebijakan-kebijakan yang dilaksanakan oleh dinasti Umayyah mengantarkan pada perkembangan pendidikan dan hasilnya yang lebih maju yang diraih pada masa ini.[3]

3.      Lembaga pendidikan islam pada masa bani umayyah
Lembaga pendidikan islam dimasa ini diklasifikasikan atas dasar muatan kurikulum yang diajarkan. Dalam hal ini, kurikulumnya meliputi pengetahuan agama (lembaga pendidikan formal)  dan pengetahuan umum (non formal). Adapun lembaga pendidikan islam yang ada sebelum kebangkitan madrasah pada masa bani umayyah adalah sebagai berikut:[4]
a.        Shuffah, adalah suatu tempat yang telah dipakai untuk aktivitas pendidikan. Biasanya tempat ini menyediakan tempat pemondokan bagi pendatang baru dan mereka tergolong miskin. Disini para siswa diajarkan membaca dan menghafal alquran secara benar dan hukum islam dibawah bimbingan langsung dari nabi. Pada masa ini setidaknya telah ada sembilan shuffah yang tersebar dikota madinah. Dalam perkembangan berikutnya, sekolah shuffah juga menawarkan pelajaran dasar-dasar berhitung, kedokteran, astronomi, geneologi, dan ilmu fonetik.
b.      Kuttab/maktab,adalah lembaga pendidikan islam tingkat dasar yang mengajarkan membaca dan menulis kemudian meningkat pada pengajaran alquran dan pengetahuan agama tingkat dasar.
c.       Halaqah artinya lingkaran. Artinya, proses belajar mengajar di sini dilaksanakan di mana murid-murid melingkari gurunya. Seorang guru biasanya duduk dilantai menerangkan, membacakan karangannya, atau memberikan komentar atas karya pemikiran orang lain. Kegiatan halaqah ini bisa terjadi di masjid atau di rumah-rumah. Kegiatan halaqah ini tidak khusus untuk mengajarkan atau mendiskusikan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum, termasuk filsafat.
d.       Majlis, yang berarti sesi dimana aktivitas pengajaran atau diskusi berlangsung. Ada beberapa macam majlis seperti; majlis al-hadits, majlis ini diselenggarakan oleh ulama/guru yang ahli dalam bidang hadits. Majlis al-tadris, majlis ini biasanya menunjuk majlis selain dari pada hadist, seperti majlis fiqih, majlis nahwu, atau majlis kalam. Majlis al-syu’ara, majlis ini adalah lembaga untuk belajar syair, dan sering dipakai untuk kontes para ahli syair. Majlis al-adab, majlis ini adalah tempat untuk membahas masalah adab yang meliputi puisi, silsilah, dan laporan bersejarah bagi orang-orang yang terkenal. Majlis al-fatwa dan al-nazar, majlis ini merupakan sarana pertemuan untuk mencari keputusan suatu masalah dibidang hokum kemudian difatwakan.
e.        Masjid, semenjak berdirinya pada masa nabi muhammad saw, masjid telah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum muslimin, baik yang menyangkut pendidikan maupun sosial ekonomi.
f.        Khan, berfungsi sebagai asrama untuk murid-murid dari luar kota yang hendak belajar hukum islam pada suatu masjid, seperti khan yang dibangun oleh di’lij ibn ahmad ibn di’lij di suwaiqat ghalib dekat makam suraij. Disamping fungsi itu, khan juga digunakan sebagai sarana untuk belajar privat.
g.      Badi’ah, secara harfiah badiah artinya dusun badui di padang sahara yang di dalam terdapat padang sahara yang didalam terdapat bahasa arab yang masih fasih dan murni sesuai dengan kaidah bahasa arab. Lembaga pendidikan  ini muncul seiring dengan kebijakan pemerintahan bani umayyah untuk melakukan program arabisasi yang digagas oleh khalifah abdul malik ibn marwan. Akibat dari arabisasi ini maka muncullah ilmu qawaid dan cabang ilmu lainnya mempelajari bahasa arab. Melaui pendidikan di badiah ini,maka bahasa arab dapat sampai ke irak, syiria, mesir, lebanon, tunisia, al-jazair, maroko, di samping saudi arabia, yaman, emirat arab,dan sekitarnya. Dengan demikian banyak para penguasa yang mengirim anaknya untuk belajar bahasa arab ke badiah.
Sedangkan madrasah-madrasah yang ada pada masa bani umayyah adalah sebagai berikut:[5]
a.                 Madrasah mekkah: guru pertama yang mengajar di makkah, sesudah penduduk mekkah takluk, ialah mu’az bin jabal. Ialah yang mengajarkan al qur’an dan mana yang halal dan haram dalam islam.
b.                   Madrasah madinah: madrasah madinah lebih termasyur dan lebih dalam ilmunya, karena di sanalah tempat tinggal sahabat-sahabat nabi. Berarti disana banyak terdapat ulama-ulama terkemuka.
c.                      Madrasah basrah: ulama sahabat yang termasyur di basrah ialah abu musa al-asy’ari dan anas bin malik. Abu musa al-asy’ari adalah ahli fiqih dan ahli hadist, serta ahli al qur’an. Sedangkan abas bin malik termasyhur dalam ilmu hadis.
d.                 Madrasah kufah: madrasah ibnu mas’ud di kufah melahirkan enam orang ulama besar, yaitu: ‘alqamah, al-aswad, masroq, ‘ubaidah, al-haris bin qais dan ‘amr bin syurahbil.
e.                    Madrasah damsyik (syam): setelah negeri syam (syria) menjadi sebagian negara islam dan penduduknya banyak memeluk agama islam. Maka negeri syam menjadi perhatian para khilafah. Madrasah itu melahirkan imam penduduk syam, yaitu abdurrahman al-auza’iy yang sederajat ilmunya dengan imam malik dan abu-hanafiah.
f.                    Madrasah fistat (mesir): setelah mesir menjadi negara islam ia menjadi pusat ilmu-ilmu agama. Ulama yang mula-mula madrasah madrasah di mesir ialah abdullah bin ‘amr bin al-‘as, yaitu di fisfat (mesir lama).

4.      Kebijakan pemerintah pada masa bani umayyah
Para penguasa dan pemimpin muslim memiliki perhatian yang besar terhadap ilmu pengetahuan sejak masa khulafaur rasyidin. Mereka mendirikan dan menghidupi berbagai sarana penunjang ilmu pengetahuan dan pendidikan, termasuk lembaga-lembaganya. As-suffah yang menjadi model pendidikan islam ketika nabi berada di madinah tersebar keluar madinah tersebar luas keluar madinah sejalan dengan persebaran masjid. Di daerah-daerah baru pada masa bani umayyah dimana bahasa arab bukan bahasa pertama dan alquran belm dikenal, pembangunan lembaga pendidikan islam, seperti kuttab dan masjid menjadi tujuan utama para khalifah dan gubernur, sehingga biaya pembangunan  ditanggung pemerintah. Banyak sekali dana yang dialokasikan untuk mendirikan dan memelihara sekolah-sekolah ini dengan cara memberikan beasiswa yang besar kepada murid yang berhak menerimanya.



PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dinasti daulah bani umayyah berkuasa cukup lama selama kurang lebih 91 tahun lamanya. Kebijakan dan perubahan yang dilakukan oleh para khalifah tersebut menjadi pelajaran penting bagi pemimpi-pemimpin islam saat ini. Bani umayyah dalam pengembangan pola pendidikan islam memang masih sama dengan periode sebelumnya tetapi sudah ada reformasi yang dilakukan baik dari segi kurikulumnya maupun tata cara yang dilakukan oleh para pendidiknya. Salah satu kemajuan yang pendidikan selama pemerintahan bani umayyah yakni pengembangan kurikulum pengajaran dan pendidiknya meskipun hal-hal tersebut belum terlalu formal seperti saat sekarang ini. Pembangunan sarana prasarana pendidikan baik pendidikan di khutab,ruang sastra dan bahasa, perpustakaan serta rumah sakit untuk praktik bagi calon dokter sudah tersedia pada saat itu. Kemajuan pengetahuan dan pembaharuan sistem pendidikan pada zaman daulah bani umayah sudah terlihat. Karena pemerintah bani umayyah menaruh perhatian yang sangat dalam bidang pendidikan. Memberikan dorongan yang kuat terhadap dunia pendidikan dengan penyediaan sarana dan prasarana. Hal ini dilakukan agar para ilmuan, para seniman, dan para ulama mau melakukan pengembangan bidang ilmu yang dikuasainya serta mampu melakukan kaderisasi ilmu.



DAFTAR PUSTAKA

Niswah, Choirun. 2006. Sejarah Pendidikan Islam. Palembang: Rafa Press
Amin, Samsul Munir. 2006. Sejarah Peradaban Islam. Jakarata: Amzah
Andewi Suhartini, Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Departemen Agama RI, 2009. Hal. 77.
Http://ibnu-safruddin.blogspot.com/2012/12/sejarah-pendidikan-islam-pada-masa-bani_9.html



[1] Choirun Niswah. Sejarah Pendidikan Islam. Palembang: Rafah Pres. 2006. Hal. 43-44.
[2] Ibid. Hal 44-45.
[3] Andewi Suhartini, Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Departemen Agama RI, 2009. Hal. 77.
[4] Andewi Suhartini, Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Departemen Agama RI, 2009. Hal. 87.
[5] Andewi Suhartini, Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Departemen Agama RI, 2009. Hal. 89.