Download Makalah ini disini gratis
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kerangka Berfikir Irfani:
Dasar-Dasar Falsafi Maqamat dan Ahwali
Tinjauan analisis terhadap tasawuf menunjukkan bagaimana para sufi
dengan berbagai aliran yang dianutnya memiliki suatu konsepsi tentang jalan (thariqat)
menuju Allah. Jalan ini yang dimulai dengan latihan-latihan rohaniah, lalu
secara bertahap menempuh berbagai fase, yang dikenal dengan maqam
(tingkatan) dan hal (keadaan), yang berakhir dengan mengenal (ma’rifat) kepada Allah. Tingkatan
ma’rifat menjadi jargon yang umumnya banyak diukejar oleh para sufi. Kerangka
sikap dan prilaku sufi diwujudkan melalui amalan-amalan dan metode-metode
tertentu yang disebut thariqat, atau jalan dalam rangka menemukan pengenalan Allah.
Lingkup perjalanan menuju Allah untuk memperoleh ma’rifat yang berlaku
dikalangan sufi sering disebut sebagai sebuah kerangka ”irfani”.[1]
Lingkup “irfani”
tidak dapat dicapai dengan mudah atau secara spontanitas, tetapi melalui proses
yang panjang. Proses yang dimaksud adalah maqam-maqam ( tingkatan) dan ahwal (keadaan). Yang
dimaksud dengan tingkatan maqam oleh para sufi adalah tingkatan seorang hamba
dihadapan Allah, dalam hal ibadah dan latihan-latihan jiwa yang dilakukan. Disamping
istilah maqam, terdapat pula istilah hal yakni keadaan atau
kondisi psikologis ketika seorang sufi mencapai maqam tertentu. Maqam
dan hal tidak dapat dipisahkan karena satu sama lain saling berkaitan keduanya
diibaratkan dua sisi mata uang. Keterkaitan keduanya dapat dilihat dalam
kenyataan bahwa maqam menjadi prayarat menuju tuhan; dan bahwa dalam maqam
akan ditemukan kehadiran hal. Hal yang telah telah ditemukan dalam maqamakan
mengantarkan seseorang untuk mendaki maqam-maqam selanjutnya.[2]
Sebagai contoh seseorang yang tengah berada dalam maqam tobat akan
menemukan hal (perasaan) betapa indahnya bertobat dan tidak akan mengerjakan
kembali dosanya.[3]
B. Metode
Irfani
Dalam dunia tasawuf, qalb( hati)
merupakan pengetahuan tentang hakikat-hakikat ma’rifat. Qalb yang dapat
memperoleh makrifat adalah yang telah tersucukan dari berbagai noda atau akhlak
jelek yang sering dilakukan manusia dan karena qalb merupakan bagian jiwa,
kesucian jiwa dapat mempengaruhi kecemerlangan qalb dalam menerima ilmu. Qalb
yang telah tersucikan akan mampu menembus alam malaikat.
Dengan demikian qalb berpotensi untuk berdialog dengan tuhan.
Inilah yang dimaksudkan oleh imam Al-Ghazali dengan ungkapan bahwa diluar akal
dan jiwa, terdapat alat yang dapat menyingkap hal-hal yang ghaib dan hal-hal
yang akan terjadi pada masa yang akn datang.penyingkapan pengetahuan seperti
ini merupakan wacana ‘irfaniyah. Hanya dengan sarana qalb itulah, ilmu ma’rifat
dapat diperoleh manusia.[4]
Disamping melalui tahapan-tahapan maqamat dan ahwal untuk memperoleh makrifat,
seseorang harus melalui upaya-upaya tertentu yakni:
1. Riyadhah
Riyadhah sering disebut juga sebagai latihan-latihan mistik yakni
latihan kejiwaan melalui upaya membiasakan diri agar tidak melakukan hal-hal
yang mengotori jiwanya. Riyadah dapat pula berarti proses internalisasi
kejiwaan dengan sifat-sifat terpuji dan melatih membiasakan meninggalkan
sifat-sifat jelek.
2. Tafakur
Tafakkur penting dilakukan oleh setiap manusia yang menginginkan
ma’rifat. Sebab tatkala jiwa sudah belajar dan mengolah ilmu, lalu memikirkan
dan menganalisanya, pintu kegaipan akan dibukakkan untuknya. Tafakkur
berlangsung internal dengan proses pembelajaran dari dalam diri manusiamelalui
aktivitas berfikir yang menggunakn perangkat batiniah (jiwa). Selanjutnya
tafakur dilakukan dengan memotensikan nafs killi (jiwa universal). Nafs kulli
mempunyai fungsi yang sangat penting untuk menghasilkan ilmu, terutama ilmu
ma’rifat. Alasannya, ilmu yang dihasilkan melalui penggunaan nafs kulli lebih
bersifat universal. Untuk memungsukan nafs kulli kegiatan tafakkur mempunyai
peranan yang sangat penting.
3. Tazkiyat An-Nafs
Tazkiyat An-Nafs adalah penyucian jiwa manusia. Proses penyucian
jiwa dari kerangka tasawuf ini dapat dilakukan melalui tahapan takhalli dan
tahalli. Upaya melakukan penyempurnaan jiwa perlu dilakukan oleh setiap orang
yang menginginkan ilmu ma’rifat. Sebab ilmu ma’rifat tidak dapat diterima oleh
manusia yang jiwany kotor ada lima hal yang menjadi penghalang bagi jiwa dalam
menangkap hakikat yaitu: jiwanya yang belum sempurna, jiwanya yang dikotori
perbuatan-perbuatan maksiat, menuruti
keinginan badan, penutup yang menghalangi masuknya hakikat kedalam jiwa, dan
tidak dapat berfikir logis, dibutuhkan upayapengembalian jiwa kepada
kesempurnaanyauntuk menghilangkan penghalang-penghalangitu. Dalam konteks
inilah, penyempurnaan jiwa dapatdilakukan dengan Tazkiyat An-Nafs.
4. Dzikrullah
Secara etimologis, dzikir adalah mengingat, sedangkan secara
istilah adalah membasahi lidah dengan ucapan-ucapan pujian kepada Allah. Dalam
pandangan sufi, dzikir akan membuka tabir alam malaikat. Sudah menjadi
kesepakatan umum bahwa dzikir merupakan kunci pembuka alam gaib. Dzikir juga
bermanfaat untuk membersihkan hati. Menurut imam Al-ghazali dzikir berfungsi
untuk mendatangkan ilham. Ruang gerak setan menjadi terhalang sehingga setan
pergi menjaun dari hati manusia, pada saat itulah setan memberi ilham ke dalam
hati manusia.[5]
C. Tokoh-Tokoh Tasawuf Irfani
1) Rabi’ah Al-Adawiyyah
Isi pokok ajaran tasawuf Rabi’ah adalah tentang cinta. Oleh karena itu,
ia mengabdi melakukan amal sholeh bukan karena takut masuk neraka atau
mengharap masuk surge, tetapi karena cinta kepada Allah.
2) Dzu An-Nun Al-Mishri
Ia berhasil memperkenalkan ma’rifat versi tasawuf. Yaitu menggunakan
pendekatan kalbu yang bias digunakan para sufi dan menggunakan pendekatan akal
yang bias digunakan para teolog.
3) Abu Yazid Al-Bustami
Menurut abu Yazid, ajaran tasawuf yang
terpenting adalah fana dan baqa. Fana berasal dari kata faniya yang berarti
musnah, sedangkan baqa berasal dari kata baqiyah yang berdasarkan istilah
tasawuf berarti mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah.
4) Abu Mansur Al-Hallaj
Al-Hallaj berpendapat bahwa dalam diri
manusia sebenarnya ada sifat-sifat ketuhanan.
D. Pengertian Maqomat
Secara harfiah maqamat berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat
yang berdiri atau pangkal mulia. Kemudian digunakan untuk arti sebagai jalan
panjang yang harus ditempuh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah.
Sedangkan dalam bahasa inggris berarti tangga dalam artian tentang berapa
jumlah tangga atau maqamat yang harus ditempuh oleh seoarang sufi untuk sampai
menuju tuhan.[6]
Dikalangan sufi, orang pertama membahas masalah maqamat yakni
barangkali al-Muhasibi karena kegemarannya melakukan introspeksi diri.
Menurutnya, perhitungan dan perbandingan terletak diantara keimanan dan
kekafiran, antara kejujuran dan kehianatana, antara tauhid dan syirik serta
antara ikhlas dan riya’. kemudian muncul lagi setelahnya tokoh lain yakni
al-Surri al-saqathi yang berpendapat ada empat hal yang harus ada dalam qalbu
seseorang yaitu rasa takut hanya kepada Allah,
rasa harap hanya kepada Allah, rasa cinta hanya kepada Allah dan rasa
akrab hanya kepada Allah. [7]
Sedangkan Ibnu Rush memuji
prilaku juhud dan prilaku-prilaku luhur yang disebut oleh kalangan sufi sebagai
maqamat dan ahwal seperti sabar, syukur, dan prilaku –prilaku yang membangun
ketakwaan dalam hati dan taqwa merupakan jembatan penghubung antara seorang
hamba kepada Allah. Ibnu rush mengatakan bahwa tujuan syara’ adalah mengajarkan
ilmu sejati dan amal sejati. Ilmu sejati adalah mengetahui Allah dan seluruh
semesta, terutama yang syar’i serta mengetahui faktor-faktor kebahagiaan kesengsaraan akhirat.[8]
Dikalangan sufi tidak sama pendapatnya tentang
tentang berapa jumlah tangga atau maqamat yang harus ditempuh oleh seorang sufi
untuk sampai menuju kepada tuhan menurut Muhammad al-kalabazy dalam kitabnya al-ta’arruf
li mazhab ahl al- tasawuf, sebagai dikutif harun nasution misalnya
mengatakan bahwa maqamat itu jumlahnya ada sepuluh yaitu al-taubah,
al-zuhud, al- shabr,- al-fagr, al-tawadlu’, al-taqwa, al-tawakkal’, al-ridla,
al-mahabbah dan al-ma’rifah[9].
Sementara itu Abu Nasr al-sarraj al-Tusi dalam kitab al-Luma’
menyebutkan jumlah maqamat hanya tujuh, yaitu al-taubah, al-wara’, al-zuhud,
al-faqr, al-tawakkal, al-mahabbah, al- ma’rifah dan al-ridla. Dalam hal itu
imam al-ghazali dalam kitabnya ihya’Ulum al-Din mengatakan bahwa maqamat itu
ada delapan, yaitu al-taubah, al-shabr, al-zuhud, al-tawakkal, al- mahabbah,
al- ma’rifah, dan al-ridla.[10]
Kutipan diatas
memperlihatkan keadaan variasi penyebutan maqamat yang berbeda-beda, namun ada
maqamat yang oleh mereka sepakati, yaitu al-taubah, al-zuhud, al-wara, al-
faqr, al-shabr, al-tawakkal dan al-ridla. Penjelasan atas masing-masing
istilah tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.
1. Al-Zuhud
Secara harfiah al-zuhud berarti tidak ingin kepada sesuatu
yang bersifat keduniawian. Sedangkan menurut harun nasution zuhud artinya
keadaan meninggalkan dunia dan hidup kemateriaan. Zuhud termasuk salah
satu ajaran agama yang sangat penting dalam rangka mengendalikan diri dari pengaruh
kehidupan dunia. Orang yang zuhud lebih mengutamakan atau mengejar
kebahagian hidup dunia yang fana. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang
berbunyi: katakanlah kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan aherat itu
lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa, dan kamu tudak dianiaya sedikitpun (
QS. Al-Nisa’, 4:78).[11]
Zuhud dapat juga diartikan sebagai suatu sikap melepaskan diri dari
rasa ketergantungan terhadap kehidupan duniawi dengan mengutamakan kehidupan
akhirat. Menurut Al-ghazali ia mengartikan zuhud sebagai sikap mengurangi
keterikatan pada dunia untukkemudian menjauhinya dengan penuh kesadaran.
Sedangkan Al-Bashri yang menyatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan kehidupan
dunia dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. [12]
Calaon sufi harus melepaskan segala macam kenikmatan dan kehidupan
hidup yang bersifat materi. Ia harus menyesiakan dirinya untuk hidup dalam
keterbatasan dan serba kekurangan. Ia harus tabah menyambut pandangan masyarakat
sekitar yang menilai stasus seseorang
dari segi materi ia harus mebebaskan diri dari ikatan materi agar kepada Allah.
Kelelapan tidur diwaktu malam harus diganti dengan zikir dan sujud kehadiran
Ilahi. Titik sentrum ingatan dan kegiatan hanya kepada Allah. Ini tidak dapat
dilakukan dengan sempurna apabila jiwa dan perhatian masih terbagi-bagi.[13]
Maka tiada jalan lain, lepaskan dan zuhud kepada dunia.
Dilihat dari maksudnya, zuhud terbagi menjadi tiga tingkatan.
Pertama (terendah) menjauhkan dunia ini agar terhindar dari hukuman di akhirat.
Kedua, menjauhi dunia dengan menimbang imbalan di akhirat. Ketiga (tertinggi),
mengucilkan dunia bukan takut atau berharab, tetapi cinta kepada Allah. Orang
yang berada pada tingkat tertinggi ini akan memandang segala sesuatu, kecuali
Allah, tidak mempunyai apa-apa.[14]
2. Al-Tabah
Al-Taubah
berasal dari bahasa Arab taba, yatubu, taubatan yang artinya kembali.
Sedangkan taubat yang dimaksud oleh kalangan sufi adalah memohon ampun atas
segala dosa dan disertai janji yang sungguh-sungguh tidak aakn mengulangi
perbuatan dosa tersebut, yang disertaai dengan melakukan amal kebajikan. Harun Nasuion mengatakan taubat yang dimaksud sufi
ialah taubat yang sebenarnya, taubat yang tidak akan membawa dosa lagi, didalam
Alquran banyak dijumpai ayat-ayat yang berbunyi” Dan (juga) orang-orang yang
apabila mengerjakan perbuatan kejia atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat
akan Allah, lalu memohon ampun terhadap tuhan-tuhan mereka. ( QS. Ali Imran, 3:135).[15]
Menurut
al-Junaid pertama taubat adalah menyesali tindak kelalaian terhadap Allah yang
terjadi, disertai tekat kuat untuk melekatkan diri dengan tasawuf, dan usaha
serius. Kedua tekad untuk tidak mengulangi perbuatan yang dilarang Allah, dan
ketiga, usahamengembalikan orang yang dizalimi). [16]
Menurut Qamar
kailani dalam bukunya fi At-tashawwuf Al- Islami, tobat adalah rasa yang
sunggu-sungguh dalam hati disertai permohonan ampun serta meninggalkan segala
perbuatan yang menimbulkan dosa. Sedangkan menurut Al-Ghazali
mengklasifikasikan tobat pada tiga tingkatan:
a.
Meninggalkan
kejahatan dalam segala bentuknya dan beralih pada kebaikan karena takut kepada siksa
Allah.
b.
Beralih
pada satu situasi yang sudah menuju kesituasi yang lebih baik lagi. Dalam sawuf, keadaan ini sering disebut “
inabah”.
c.
Rasa
penyesalan yang dilakukan semata-mata karena kataatan dan kecintaan kepada
Allah, hal ini disebut “ aubah”.[17]
Menurut sufi yang menyebabkan manusia jauh dari Allah adalah kerena
dosa, sebab dosa adalah sesuatu yang kotor, sedangkan Allah maha suci dan
menyukai yang suci. Oleh karena itu, apabila seseoarang mendekatkan diri
kepadanya, maka ia harus membersihkan dirinya dari segala dosa dengan jalan
bertaubat dalam pengertian sebenarnya. Secara garis besar sufi membagi taubat
dalam tiga tingkatan yaitu: pertama, taubat dalam pengertian meninggalkan
segala kemaksiatan dan melakukan kebajikan secara terus menerus. Kedua taubat
ialah keluar dari kejahatandan memasuki kebaikan karena takut akan murka Allah.
Ketiga taubat adalah terus menerus beraubat walaupun sudah tidak lagi berbuat
dosa, yang disebut taubat abadi. Bagi sufi taubat bukan hanya menghapus dosa,
tetapi lebih dari itu, yaitu sebagai syarat mutlak agar dapat delkat dengan
Allah. Oleh karena itu , mereka menetapkanistigfar sebagai salah satu amalan
yang harus dilakukan beratus ratuskali agar ia bersih dari dosa.[18]
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa taubat adalah
langkah pertama yang harus dilakukan seeorang yang memasuki sufi yang ingin
berada sedekat mungkin dengan Allah.
3. Al-
Wara’
Secara harfiah al-wara’ artinya saleh, menjaukan diri dari perbuatan
dosa. Dalam pengertian sufi al-wara’ adalah meninggalkan segala yang di
dalamnya terdapat keraguan-keraguan antara halal dan harum.[19] Menurut
penafsiran imam al-junaid tidak hanya terbatas pada pencaharian rejeki yang
halal saja dengan menghidari syubbat didalamnya, melainkan mencakup komitmen
menjaga diri untuk tidak mengucapkan hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah.[20]
Dan juga wara’ berarti menghindari apa saja yang tidak baik. Dan
juga juga meninggalkan segala sesuatuyang
meragukan dan meninggalkan kemewahan. Menurut Qamar kailani orang sufi membedakan
wara’ itu menjadi dua macam yakni wara’ lahirliyah, yaitu tidak mempergunakan
anggota tubuhnya untuk hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah, dan wara’
bathin, yaitu tidak menempatakan atau mengisi hatinya kecuali Allah.[21]
4. Kefakiran
Secara harfiah fakir biasanya diartikan sebagai orang yang
berhajat, butuh atau orang miskin. Sedangkan dalam pandangan sufi fakir tidak
meminta lebih dari apa yang telah apa yang ada pada diri kita.[22]
Al-faqr ada;lah tidak menuntut lebih banyak dari apa yang telah dipunyai dan
merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki, sehingga tidak meminta sesuatu yang
lain. Sikap mental faqr merupakan benteng pertahanan yang kuat dalam menghadapi
pengaruh kehidupan materi. Sebab, sikap mental ini akan menghindari seseoarang dari
keserakahan.[23]Sedangkan
menurut penafsiran imam al-junaid adalah orang-orang yang menghadap Allah
dengan lebih banyak ibadah dalam khalwat. Ketulusan dalam status kefakiran
yang hanya ditujukan kepada Allah saja
membuat sang fakir sejati tidak mau mengemis dan meminta-minta pada manusia
karena sudah merasa cukup kaya dengan apa yang diperolehnya disisi Allah.
Statemen ini dimaksudkan agar seorang sufi membebaskan diri dari riya, menjaga
kehormatan diri dari mengemis.[24]
5.
Sabar
Secara harfiah, sabar berarti tabah hati,
menurut Zun al-Mishry, sabar artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang
bertentangan dengan kehendak Allah, tetapi tenang ketika mendapatkan cobaan,
dan menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran dalam
bidang ekonomi. Ibn Atha mengatakan sabar artinya tetap tabah dalam menghadapi
cobaan dengan sikap yang baik. Selanjutnya
sikap sabar sangat dianjurkan dalam ajaran al-Qur’an. Allah berfirman” maka
bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari
rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. (QS.al-Ahqaf,
46:35).[25]
Sedangkan menurut imam al-juanaid berarti ketegaran saat ditimpa
bencana/ bala yang merupakan siksa dari Allah bagi orang-orang mukmin yang
mencampur adukkan amal shaleh dan amal buruk, pengampunan dosa bagi orang-orang
mukmin sejati, sementara bagi para nabi, ia adalah hikmah dari Allah yang hanya
dia ketahui atau eksekusi sebab apa yang dia kehendaki pasti terjadi.
Menurutnya akhir orang sabar dalam status kesabarannya adalah menanggung beban
demi Allah hingga masa-masa penderitaan berakhir.[26] Sedangkan menurut syekh Abdul Qadir
Al-jailani, sabar ada tiga macam:
a.
Bersabar
kepada Allah dengan melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangan Nya.
b.
Bersabar
bersama Allah, yaitu bersabar terhadap ketetapan Allah dan perbuatan-Nya
terhadapmu, dari berbagai macam kesulitan dan musibah.
c.
Bersabar
atau Allah, yaitu bersabar terhadap rezeki, jalan keluar, kecukupan,
pertolanagan, dan pahala yang dijanjikan Allah di kampung akhirat.[27]
Jadi orang yang telah berhasil membentuk dirinya sebagai manusia
penyabar, ia akan memperoleh status yang tinggi dan mulia, kesejahteraan bagi
anda, karena kesabaran anda. Alangkah nikmatnya balasan akhirat. Sabar itu
diperlukan dalam perjuangannyang berat baik pada saat menghadapi sesuatu yang
disenangi maupun ketika dihadapkan kepada persoalan yang berat atau percobaan
dan musibah.[28]
6. Tawakkal
Secara harfiah
tawakkal berarti menyerahkan diri kepada Allah. Menurut Harun Nasution tawakkal
adalah menyerahkan diri kepada keputusan Allah. Bertawakkal termasuk perbuatan
yang diperintahkan oleh Nya. Allah berfirman dan hanyalah kepada Allah orang-orang
yang beriman bertawakkal (QS. At_Taubah, 9:51). [29]
Hakikat tawakkal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah,dan membersihkan
ihktiar yang keliru , tawakkal merupakan gambaran keteguhan hati dalam
mengantungkan diri hanya kepada Allah. [30]
Bagi kaum sufi
pengertian tawakkal itu tidak cukup kalau hanya sekedar menyerahkan diri
seperti itumenurutnya jangan meminta, jangan menolak, jangan menduga-duga.
Nasib apapun itu karunia Allah.sikap seperti inilah yang dicari dan diusahakan
sufi agar jiwa mereka tenang, berani dan ikhlas dalam hidupnya yang dialaminya.[31] Sedangkan tawakkal menurut al-junaidi berarti
percaya sepenuhnya kepada Allah sebagai penjamin rezeki bagi setiap makhluk
hidup intinya menurutnya tawakkal adalah kebersandaran hati pada Allah.[32]
7. Kerelaaan
Secara harfiah
ridha artinya rela, suka, senang. Harun nasution mengatakan ridha berusaha,
tidak menantang qada dan qadar Tuhan. Manusia biasanya merasa sukar menerima
keadaan-keadaan yang biasa menimpa dirinya, seperti kemiskinan, keluarga,
kehilangan barang, pangkat dan kedudukan, kematian dan lain-lain yang dapat
mengurangi kesenangannya.yang dapat bertahan dari coabaan itu adalah orang yang
memiliki sifat ridha.[33]
Rela juga
berarti menerima dengan rasa puas terhadap apa yang dianugerahkan Allah SWT. orang
yang rela mampu melihat hikmah dan kebaikan dibali cobaan yang diberikan Allah
dan tidak berburuk sangka terhadap ketentuannya bahkan ia mampu melihat
keagungan, kebesaran, dan kemahasempurnaan dzat yang memberikan cobaan kepadany
sehingga tidak mengeluh dan tidak merasakan sakit atau cobaan tersebut.[34]
E. Pengertian
Ahwali
Menurut sufi
al-ahwal jamak dari hal dalam bahasa inggris disebut state, adalah situasi
kejiwaan yang diperoleh seorang sufi sebagai karunia Allah, bukan hasil dari
datangnya usahanya. Menurut al-Qusyairi, al-hal selalu bergerak naik setahap
demi setahap sampai ketingkat puncak kesempurnaan rohani. Karena keadaannya
terus menerus bergerak dan selalu beralih berganti itulah disebut al-hal. Kalau
maqam adalah tingkatan pelatihan dalam membina sikap hidup yang hasilnyua dapat
dilihat dari prilaku seseorang, maka prilaku sikap sese orang bersifat abstrak.
Ia tidak dapat dilihat dari mata, hanya dapat dipahami dan dirasakan oleh orang
yang mengalaminya atau memilikinya. Oleh karena itu tidak dapat diinformasikan
melalui bahasa tulisan atau bahasa lisan.[35]
Menurut Harun
Nasution, ahwali merupakan keadaan mental, seperti keadaan senang, perasaan
sedih, perasaan takut dan sebagainya.Yang biasanya disebut takut (al-Khauf),
rendah hati (al-Tawadhlu), patuh (al-Taqwa), ikhlas (al-Ikhlas),
rasa berteman ( al-uns), gembira hati ( al-Wajd), berterimakasih
(al-Syukr).Perbedaan antara ahwali dan maqam, bukan diperoleh dari usaha
manusia, tetapi diperdapat sebagai anugrah dan rahmat dari Tuhan. [36]
Dari uraian
tersebut, tampak jelas, bahwa jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk
mencapai tujuan memperoleh hubungan batin dan bersatu secara rohaniah dengan
tuhan bukanlah jalan yang mudah. Jalan yang harus dilalui seorang sufi tidaklah
licin dan dapat ditempuh dengan mudah. Jalan itu sulit dan untuk pindah dari
satu ke yang lainnya menghendaki usaha yng berat dan waktu yang bukan singkat.[37]
Sebagai mana
halnya dengan al-maqamat, dalam jumlah dan informasi al-hal ini juga terdapat
perbedaan pendapat dikalangan sufi. Dari sekian banyak nama dan sifat al-hal,
yang penting serta yang paling banyak penganutnya adalah muraqabah, al-khauf, al-raja’,
al-thuma’ninah, al- musyahadah dan al-yaqin. Akan tetapi ada juga sebagian sufi
yang menempatkan alma’rifat mendapatkan al-ma’rifat dan al-mahabbah sebai
bagian dari al-hal. Apa dan bagaimana makna satu persatu dari al-hal itu,
secara ringkas adalah sebagai berikut:
1. Al-Muraqabah
Menurut sufi
pengertian dari muraqabah yakni adanya kesadaran diri bahwa ia selalu
berhadapan dengan Allah dalam keadaan diawasi-Nya. Kesadaran yang demikian
menumbuhkan sikap selalu siap dan waspada bahwa ia dalam keadaan diawasi oleh
Khaliknya. Jadi sikap mental muraqobah ini adalah salah satu sikap yang selalu
memandang Allah dengan mata hatinya.[38] Sedangkan
menurut al-Junaid “Barang siapa yang mencapai hakikat muraqabah maka ia hanya
takut akan kehilangan bagianya dari Allah, bukan yang lain”,orang yang
benar-benar berada dalam kondisi muraqabah,
hatinya fokus kepada Allah dan tidak menengok apapun selain dia.[39]
2. Al-Khauf
Khauf berarti
suatu sikap mental merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna
pengabdianya. Takut dan khawatir kalau-kalau Allah tidak senang padanya, oleh
karena ada seperti itu, maka ia selalu berusaha agar sikap dan laku
perbuatannya tidakmenyimpang dari yang dikehendaki oleh Allah. Perasaan khauf
timbul karena pengenalan dan kecintaan kepada Allah sudah mendalam sehingga ia
merasa khawatir kalau-kalau Allah melupakannya atau takut akan siksaan Allah.[40]
Menurut Faridh menegaskan
bahwa khauf merupakan cambuk yang digunakan Allah untuk menggiring
hamba-hambanya menuju ilmu dan amal, supaya mereka dekat dengan Allah. Khauf
adalah kesakitan hati karena membayangkan sesuatu yang ditakuti, yang akn
menimpa diri pada masa yang akan datang. Khauf dapat mencegah hamba berbuat
maksiat dan mendorongnya untuk
senantiasa berada dalam ketaatan.[41]
Sedangkan
menurut al-Junaid takut kepada Allah memacu seseorang untuk tidak puas dengan amal shalehnya, atau
atau bahasa lain ia bisa membebaskan dirinya dari rasa ‘ujub
(membangga-banggakan diri) . menurutnya takut adalah mengantisipasi turunnya
siksa saat napas mengalir.[42]
3. Al-Raja
Kata ini
berartisuatu sikap mental optimise dalam memperoleh karunia dan nikmat
ilahiyang disediakan bagi hamba-hambanya yang saleh. Oleh karena Allah maha
pengampun, pengasih dan penyayang, maka seseorang hamba yang taat merasa
optimis akan memperoleh limpahan karunia ilahi. perasaan optimis akan memberi
semangat dan gairah melakukan mujahadah dalam terwujudnya apa yang di
idam-idamkan itu, karena Allah adalah yang maha pengasih lagi maha penyayang.[43]
Raja’menuntut
tiga perkara yakni cinta kepada apa yang diharapkan, takut harapannya itu
hilang, berusaha untuk mencapainya. Raja’ yang tidak dibarengi dengan ketiga
perkara itu hanyalah ilusi atu khayalan.[44]
sedangkan menurut al-junaid raja’bisa membangkitkan gairah seseoarang hamba untuk mencari lebih
banyak amal kesalehan, bukan malah sebaliknya, meremehkan kewajiban-kewajiban atau
melanggar keharaman karena tama’ dengan rahmat-Nya atau optimis mendapatkannya.[45]
4. Al-Syauq
Syauq atau
rindu adalah kondisi kejiwaan yang menyertai mahabbah, yaitu rasa rindu yang
memancari dari kalbu karena gelora cinta
yang murni. Pengetahuan dan pengenalan yang mendalam terhadap, Allah akan
menimbulkan rasa senang dan gairah.Rasa dan gairah melahirkan cinta dan akan
tumbuh rasa rindu, rindu ingin bertemu, hasrat selalu bergelora agar selalu
bersama dia. Setiap denyut jantung, detak kalbe dan desah nafas, ingatan hanya
kepada Allah, itulah rindu.[46]
Menurut Al-Ghazali, kerinduan kepada Allah dapat
dijelaskan melalui penjelasan tentang keberadaan cinta kepada-Nya. Pada saat
tidak ada, setiap yang dicintai pasti dirindukan orang yang mencintainya.
Begitu hadir dihadapannya, ia tidak dirindukan orang yang mencintainya.
Begituhadir dihadapannya, ia tidak dirindukan lagi. Kerinduan berarti menanti
sesuatu yang tidak ada. Bila sudah ada tentunya tidak dinanti lagi.[47]
Sedangkan menurut al-junaid kerinduan kepada Allah adalah kondisi emosional
yang memacu si perindu pada hasrat yang menggebu-gebu untuk mencapai
kebersamaan, meski apapun rintangan yang menghadang perjalaan menuju Allah.[48]
5. Al- Uns
Uns adalah jiwa
dan seluruh ekspresi terpusat penuh kepada suatu titik sentrum yaitu Allah,
tidak ada yang dirasa, tidak ada yang diinggat, tidak ada yang diharapkan
kecuali Allah.segenap jiwanya terpusat bulat sehingga ia seakan-akan tidak
menyadari dirinya lagi dan berada dalam situasi hilang kesadaran terhadap alm
sekitarnya.[49]Dalam
pandangan kaum sufi, sifat uns adalah sifat merasa selalu berteman, takpernah
merasa sepi.
Sedangkan
menurut al-junaid uns berarti hilangnya rasa malu disertai perasaan segan.
Selama rasa segan terhadap Allah masih ada ketika seseorang mengalami kondisi
uns maka menurut kaum sufi penghoramatan tetap ada pensucian Allah dari hal-hal
yang tidak selayaknya.[50]
6. Musyahadah
Kata musyahadah
adalah menyaksikan dengan mata kepala, tetapi dalam terminologi tasawuf
diartikan menyaksikan secara jelas dan sadar apa yang dicarinya itu. Dalam hal
ini yang dicari seorang sufi itu adalah Allah. Jadi ia merasa telah berjumpa
dengan Allah.[51]
Sedangkan menururut al-junaid adalah jenis pengetahuan tenteng alam ghaib
dengan media mata batin dengan bahasa lain adalah penjangkauan alam ghaib
dengan medium kebeningan cahaya yang masuk kedalam hati dari segala sesuatu selain Allah.[52]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Bahwa
lingkup irfani tidak dapat dicapai dengan mudah atau secara spontanitas, tetapi
melalui proses yang panjang. Proses yang dimaksud adalah maqam-maqam
(tingkatan) dan ahwal. Dua persoalan ini harus dilewati oleh orang yang berjalalan
menuju tuhan.
Namun
perlu dicatat bahwa antara maqam dan ahwal tidak dapat dipisahkan. Keduanya
ibarat dua sisi dalam satu mata uang. Keterkaitan antara keduanya dapat dilihat
dalam kenyataan bahwa maqam menjadi persayaratan menuju tuhan. Dan didalamnya
akan juga akan kita temukan kehadiran ahwal. Ahwal yang ditemukan dalam maqam
akan mengantarkan seseorang untuk mendaki mqam-maqam selanjutnya.
Daftar Pustaka
Abuddin nata. 2012. Ahlak
Tasawuf.
Jakarta : Rajawali Pers.
Amin, Samsul Munir. 2012. Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah.
Hajjaj, Muhammad Fauqi. 2011. Tasawuf islam & akhlak. Jakarta : Amzah.
M Solihin, dkk. 1998. Ilmu Tasawuf. Bandung : CV PUSTAKA SETIA.
Siregar, Riva. 1999. Tasawuf. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Footnotes
[1] M
Solihin, dkk, Ilmu Tasawuf, ( Bandung : CV PUSTAKA SETIA, 1998) hal 75.
[2] Ibid,
hal 76-77.
[3] Ibid,
hal 77.
[4] M
Solihin, dkk, Ilmu Tasawuf, ( Bandung : CV PUSTAKA SETIA, 1998) hal 89.
[5] Ibid,
hal 89-92.
[6]Abuddin
nata, Ahlak Tasawuf, ( Jakarta : Rajawali Pers, 2012) hal 193.
[7] Rivai
Siregar, Tasawuf, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1999) hal 113.
[8] Muhammad
fauqi hajjaj, Tasawuf islam & akhlak, ( Jakarta : Amzah, 2011) hal
154.
[9] Abuddin
nata, Ahlak Tasawuf, ( Jakarta : Rajawali Pers, 2012) hal 193-194.
[10] Ibid,
hal 193-194.
[11] Ibid,
hal 195.
[12] M
Solihin, dkk, Ilmu Tasawuf, ( Bandung : CV PUSTAKA SETIA, 1998) hal
78-79.
[13] Rivai
Siregar, Tasawuf, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1999) hal 188.
[14]M
Solihin, dkk, op.cit. , hal 79.
[15] Abuddin
nata, Ahlak Tasawuf, ( Jakarta : Rajawali Pers, 2012) hal 197-178.
[16]
Muhammad fauqi hajjaj, Tasawuf islam & akhlak, ( Jakarta : Amzah,
2011) hal 79.
[17] M Solihin, dkk, Ilmu Tasawuf, ( Bandung
: CV PUSTAKA SETIA, 1998) hal 78.
[18] Rivai
Siregar, Tasawuf, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1999) hal
115-116.
[19] Abuddin
nata, Ahlak Tasawuf, ( Jakarta : Rajawali Pers, 2012) hal 199.
[20]
Muhammad fauqi hajjaj, Tasawuf islam & akhlak, ( Jakarta : Amzah,
2011) hal 88.
[21] Rivai
Siregar, Tasawuf, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1999) hal 118.
[22] Abuddin
nata, Ahlak Tasawuf, ( Jakarta : Rajawali Pers, 2012) hal 200.
[23] M Solihin, dkk, Ilmu Tasawuf, ( Bandung
: CV PUSTAKA SETIA, 1998) hal 80.
[24]
Muhammad fauqi hajjaj, Tasawuf islam & akhlak, ( Jakarta : Amzah,
2011) hal 82-83.
[25] Abuddin
nata, Ahlak Tasawuf, ( Jakarta : Rajawali Pers, 2012) hal 200-201.
[26]
Muhammad fauqi hajjaj, op.cit. , hal 83-84.
[27] M Solihin, dkk, Ilmu Tasawuf, ( Bandung
: CV PUSTAKA SETIA, 1998) hal 80.
[28] Rivai
Siregar, Tasawuf, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1999) hal 120.
[29] Abuddin
nata, Ahlak Tasawuf, ( Jakarta : Rajawali Pers, 2012) hal 202.
[30] M Solihin, dkk, Ilmu Tasawuf, ( Bandung
: CV PUSTAKA SETIA, 1998) hal 82.
[31] Rivai
Siregar, Tasawuf, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1999) hal
121-122.
[32]
Muhammad fauqi hajjaj, Tasawuf islam & akhlak, ( Jakarta : Amzah,
2011) hal 85-86.
[33] Abuddin
nata, Ahlak Tasawuf, ( Jakarta : Rajawali Pers, 2012) hal 203.
[34] M Solihin, dkk, Ilmu Tasawuf, ( Bandung
: CV PUSTAKA SETIA, 1998) hal 81-82.
[35] Rivai
Siregar, Tasawuf, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1999) hal 132.
[36]Abuddin
nata, op. cit. , hal 204-205.
[37] Ibid,
hal 205.
[38] Rivai
Siregar, Tasawuf, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1999) hal 133.
[39]
Muhammad fauqi hajjaj, Tasawuf islam & akhlak, ( Jakarta : Amzah,
2011) hal 87.
[40] Rivai
Siregar, op. cit. , hal 133-134.
[41] M Solihin, dkk, Ilmu Tasawuf, ( Bandung
: CV PUSTAKA SETIA, 1998) hal 85.
[42]
Muhammad fauqi hajjaj, Tasawuf islam & akhlak, ( Jakarta : Amzah,
2011) hal 92.
[43] Rivai
Siregar, Tasawuf, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1999) hal 134.
[44] M Solihin, dkk, Ilmu Tasawuf, ( Bandung
: CV PUSTAKA SETIA, 1998) hal 85.
[45]
Muhammad fauqi hajjaj, Tasawuf islam & akhlak, ( Jakarta : Amzah,
2011) hal 92.
[46]Rivai
Siregar, Tasawuf, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1999) hal 135.
[47]M Solihin, dkk, Ilmu Tasawuf, ( Bandung
: CV PUSTAKA SETIA, 1998) hal 86.
[48]
Muhammad fauqi hajjaj, Tasawuf islam & akhlak, ( Jakarta : Amzah,
2011) hal 93.
[49] Rivai
Siregar, Tasawuf, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1999) hal 135.
[50]
Muhammad fauqi hajjaj, op.cit. , hal 94.
[51] Rivai
Siregar, op.cit. , hal 136.
[52]
Muhammad fauqi hajjaj, Tasawuf islam & akhlak, ( Jakarta : Amzah,
2011) hal 95.