![]() |
www.wongmakalah.blogspot.com Makalah ini dapat di download disini Gratis |
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Fenomenologi
Fenomenologi adalah sebuah studi
dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena. Ilmu
fenomenologi dalam filsafat biasa dihubungkan dengan Ilmu Hermeneutik, yaitu
ilmu yang mempelajari arti dari pada fenomenologi.
Secara harfiah, fenomenologi
fenomenalisme adalah aliran atau paham yang menganggap bahwa fenomenalisme
(gejala) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Seorang fenomenalisme suku
melihat suatu gejala tertentu dengan ahli ilmu positif yang mengumpulkan data,
mencari korelasi dan fungsi, serta membuat hukum-hukum dan teori.
Manusia menumpukkan dirinya
sebagai hal yang transenden (menonjolkan hal yang bersifat kerohanian), sintesa
(paduan) dan obyek dan subyek. Manusia sebagai entri quman de (mengada
pada alam) menjadi satu dengan alam itu. Manusia mengkonstitusi alamnya untuk
melihat suatu hal. Manusia harus mengkonversikan mata, mengakomodasikan lensa,
dan mengfiksasikan hal yang ingin dilihat.
Salah seorang tokoh fenomenologi
adalah Endmund Husserl (1859-1938), ia selalu berupaya ingin mendekati realitas
tidak melalui argumen-argumen, konsep-konsep, atau teori ilmu "zuruck zu
den sachen seibst", kembali kepada benda-benda itu sendiri merupakan inti
dari pendekatan yang dipakai untuk mendeskripsikan realitas menurut apa adanya.
Setiap obyek memiliki hakikat,
dan itu berbicara kepada kita jika kita membuka diri kepada gejala-gejala yang
kita terima. Fenomenologi banyak diterapkan dalam epistemology, psikologi,
antropologi dan studi-studi keagamaaan (kajian atas Kitab Suci).
B.
Fenomenologi Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan
Secara epistemologi dalam gejala
terbentuknya pengetahuan manusia itu, yaitu antara kutub si pengenal dan kutub
yang dikenal, atau antara subyek dan obyek.
Walaupun secara tegas keduanya
berbeda, akan tetapi untuk membentuk sebuah pengetahuan keduanya tidak dapat
dipisahkan satu sama lain, dan keduanya wajib ada karena merupakan suatu
kesatuan asasi bagi terwujudnya pengetahuan manusia.
Dalam hal ini pengetahuan dan
ilmu pengetahuan, subyek adalah manusia dengan akal budinya, sedangkan obyek
adalah kenyataan yang diamati dan dialami di alam semesta ini. Suatu kenyataan
bahwa supaya ada pengetahuan, subyek harus terarah kepada obyek, dan sebaliknya
obyek harus terbuka dan terarah kepada subyek.
Pengetahuan adalah peristiwa yang
terjadi dalam diri manusia. Maka tanpa ingin meremehkan peran penting dari
obyek pengetahuan, manusia sebagai subyek pengetahuan memegang peranan penting.
Keterarahan manusia terhadap obyek jadinya merupakan faktor yang sangat
menentukan bagi munculnya pengetahuan manusia.
Pengetahuan terwujud kalau
manusia sendiri adalah bagian dari obyek. Dari realitas alam semesta ini,
berkat unsure jasmaniyah, manusia mampu menangkap obyek yang ada di sekitarnya
karena tubuh jasmani manusia adalah bagian dari realitas alam semesta ini,
serta dengan bantuan jiwa dan akal budinya, manusia mampu mengangkat
pengetahuan abstrak tentang berbagai obyek lain serta bersifat temporal,
konkrit, jasmani-inderawi tadi ke tingka abstrak dan karena itu universal.
Pengetahuan manusia tidak hanya
berkaitan dengan obyek konkrit, khusus yang dikenalnya melalui pengamatan
inderawinya, melainkan juga melalui itu dimungkinkan untuk sampai pada
pengetahuan abstrak tentang berbagai obyek lain secara teoritis dapat dijangkau
oleh akal budi manusia.
Pengetahuan manusia yang bersifat
umum dan universal itulah memungkinkan untuk dirumuskan dan dikomunikasikan
dalam bahasa yang bersifat umum dan universal untuk bias dipahami oleh siapa saja
dari waktu dan tempat mana saja.
Berkat refleksi ini pula
pengetahuan yang semula bersifat langsung dan spontan, kemudian diatur dan
dilakukan secara sistematis sedemikian rupa, sehingga isinya dapat
dipertanggungjawabkan, atau dapat pula dikritik dan dibela, maka lahirlah apa
yang kita kenal sebagai Ilmu Pengetahuan.
Jadi Ilmu Pengetahuan muncul
karena apa yang sudah diketahui secara spontan dan langsung tadi, disusun dan
diatur secara sistematis dengan menggunakan metode tertentu yang bersifat baku.
C.
Metode Fenomenologi Historis Agama
Metodologi adalah studi tentang
metode yang digunakan dalam suatu bidang ilmu untuk memperoleh pengetahuan
mengenai pokok persoalan dari ilmu itu, menurut aspek tertentu dari
penyelidikan. Metodologi berhubungan dengan proses-proses kognitif yang
dituntut oleh persoalan-persoalan yang muncul dari cirri pokok studi itu. Dapat
dikatakan bahwa suatu metode adalah kombinasi sistematik dan proses-proses
kognitif dengan menggunakan teknik-teknik khusus, klasifikasi, konseptualisasi,
abstraksi, penilaian, observasi, eksperimen, generalisasi, induksi, deduksi,
argumen dan analogi, dan akhirnya pemahaman itu sendiri adalah pross-proses
kognitif. Fenomenologi historis agama menggunakan metode ilmiah sebagaimana
telah dipaparkan, kalau dia mempelajari fenomena religius. Bidang studi
meliputi fakta religius yang bersifat subyektif, seperti pikiran-pikiran,
perasaan-perasaan dan maksud-maksud dari seseorang yang diungkapkan dalam
tindakan luar.
Pertama-tama agama adalah
fenomena yang terjadi dalam subyek manusia serta terungkapkan dalam tanda dan
simbol. Kita dapat mengulangi tindakan pemahaman dari pengamat-pengamat lain
dan menyimpulkan bahwa X adalah suatu tindakan kebaktian, bahwa Y adalah
tindakan kurban, dan bahwa Z adalah kegiatan doa. Fakta ini mengandaikan
perlunya obyektivitas. Dengan kata lain, fenomena religius adalah fenomena yang
sungguh obyektif, meski faakta yang sebenarnya berdasarkan pada subyektivitas.
Bagaimana saya tahu bahwa X adalah tarian ritual? Hal ini tidak saya simpulkan
hanya dengan melihat gerakan-gerakan, namun saya menangkap tindakan-tindakan
yang penuh arti.
Fakta religius bersifat
subyektif, artinya merupakan keadaan mental dari manusia religius, dalam
caranya melihat hal-hal atau menginterpretasikannya fakta ini dan
kaitan-kaitannya sekaligus bersifat obyektif, bukan karena sebagai tindakan
budi yang berpikir melainkan sebagai sesuatu yang kebenarannya dapat dibuktikan
oleh para pengamat yang independent. Obyektivitas di sini berarti membiarkan
fakta berbicara untuk dirinya inilah prinsip epoche dalam fenomenologi
historis agama, artinya penilaian yang dikonsepkan sebelumnya harus ditunda
sampai fenomena sendiri bicara untuk dirinya.
Prinsip kedua dari visi eidehk
dalam metodologi agama mengarah pada pencarian makna hakiki dan fenomena
religius. Pemahaman makna femomena religius diperoleh selalu dan hanya lewat
pemahaman ungkapan-ungkapan. Umngkapan-ungkapan ini meliputi kata-kata dan
tanda-tanda apapun jenisnya dan tingkah laku yang ekspresif seperti tarian,
hanya melalui ekspresilah kita menangkap pikiran-pikiran religius orang lain.
Dan hanya dengan memikirkan serta mengalaminya kembali dengan empati atau
wawasan imajinatif, kita memasuki pemikiran mereka.
Pemahaman suatu fenomena religius
meliputi empati terhadap pengalaman, pemikiran, emosi, ide-ide dari orang lain
dan sebagainya. Tindakan memahami ini tidak akan diperoleh lewat pengalaman
reproduktif dari emosi dan pemikiran orang lain. Mengalami dengan cara
imitative atau reproduktif bukan merupakan kondisi untuk memahami pengalaman
orang lain. Misalnya, orang dapat tetap bersikap tenang ketika dia menyampaikan
bahwa orang lain sangat gembira, atau seseorang dalam keadaan gembira bisa
mengerti bahwa ada orang lain sedang sedih. Namun, orang haruslah lebih dahulu
mengalami kesedihan untuk sunggung-sungguh memahami kesedihan orang lain.
Tujuan keseluruhan tipe pemahaman
tingkah laku orang beragama ini tepatnya untuk menangkap makna lebih dalam dan
intensionalitas dari data religius orang lain yang merupakan
ekspresi-ekspresi dari pengalaman religius dan imannya lebih dalam. Seperti
kita lihat sejarah agama membahas aspek-aspek yang paling pokok dari kehidupan
manusia sampai menjadi dasar sepenuh-penuhnya bahwa agama adalah sesuatu yang
paling dalam dan paling luhur dalam wilayah eksistensi spiritual dan
intelektual manusia. Meskipun disadari batas-batasnya dalam tuga memasuki
kedalaman pengalaman dari suatu jiwa religius. Kalau seorang siswa yang belajar
agama tidak tahu tentang pengalaman pribadi dari hidupnya sendiri apa artinya
berdoa, pandangannya tentang doa menjadi tak ternilai.
D.
Tujuan Fenomenologi Historis Agama
Ada berbagai cara dalam
mempelajari fenomena agama, filolog berusaha menginterpretasikan suatu teks
berkenaan dengan persoalan agama dengan setepat-tepatnya. Arkeolog berusaha
merekonstruksi suatu kompleks tempat suci kuno atau menerang.
Fenomenologi agama tidak
membatasi diri pada verifikasi dan penjelasan analisis dari masing-masing data.
Sebagaimana yang dipelajari terpisah oleh berbagai disiplin ilmu khusus. Ilmu
ini berusaha mengkoordinasikan data religius, untuk menentukan hubungan dan
mengelompokkan fakta menurut hubungan tersebut. Kalau menyangkut
hubungan-hubungan formal, fenomenologi agama akan mengklasifikasikan data religius
di bawah tipe-tipe kalau hubungan itu bersifat kronologis. Data itu masuk dalam
serial atau rangkaian dalam hal yang pertama, ilmu agama hanya bersifat
deskriptif. Dalam hal yang kedua kalau perhubungan yang diselidiki tidak hanya
bersifat kronologis, dengan kutukan jika rangkaian kejadiannya dalam waktu
berhubungan dengan suatu perkembangan dari dalam, maka ilmu agama menjadi ilmu
sejarah, sejarah agama.
Sejarah agama pertama-tama
berurusan dengan agama dalam lingkupnya masing-masing. Perkembangannya dalam
lingkup yang sama, oleh karena itu sejarah agama mempelajari data religius
dalam kaitan historisnya bukan saja dengan data religius lain, tetapi juga
dengan data yang bukan religius, apakah itu kesusatraan, kesenian,
kemasyarakatan, dan sebagainya. Lebih dari itu tidaklah cukup hanya mengetahui
apa yang tepatnya terjadi dan bagaimana fakta itu didapatkan yang ingin kita
ketahui terutama adalah makna dari kejadian itu.
E.
Fenomenologi Sains dan Sunnah
Sebagaimana yang kita ketahui
bahwasanya fenomena yakni bermakna gejala. Adapun gejala ialah sebuah peristiwa
yang telah terjadi yang kemudian diamati oleh manusia tetntang hakikat apa yang
ada di balik fenomena tersebut. Oleh karena itu fenomena sains pun bias
dibuktikan dalam sunnah seorang nabi yang sangat luar biasa hebat dan itu juga
karena kehendak Sang Pencipta.
Nabi Muhammad bersabda:
Artinya: "…ia tetap berada di tempatnya dan
tidak berpindah dan bergeser…"
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.
bahwasanya Rasulullah pernah ditanya, kemana tenggelamnya benda-benda (angkasa)
yang tenggelam itu, dan dari mana terbitnya benda-benda (angkasa) yang terbit
itu?
Beliau menjawab; ia itu berada di
tempatnya, tidak berpindah dan bergeser. Ia tenggelam bagi satu kaum dan terbit
bagi satu kaum yang lain, ia tenggelam dan terbit pada suatu kaum (dan dalam
waktu bersamaan) satu kaum mengatakan ia tenggelam sementara kaum yang lain
mengatakan ia terbit. (musnad Imam Abiy Ishaq Al-Hamadaniy).
Hadist ini menjelaskan bahwa
matahari terus menerus terbit dan terbenam saling bergantian di atas permukaan
bumi. Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali jika bumi berbentuk bulat atau
elips dan ia terus menerus berputar mengelilingi porosnya di hadapan matahari,
sehingga terjadilah siang dan malam di atas permukaannya secara bergantian. Dan
ini akan berlangsung hingga Kiamat tiba.
Fenomena terpenting dari
kebulatan bumi adalah keragaman mathla' (posisi terbit). Lantaran
keragaman horizon (cakrawala) sehingga matahari, bulan dan benda-benda angkasa
lainnya menghilang dari penduduk bumi di satu kawasan dan terbit pada penduduk
bumi kawasan lain. Benda-benda di angkasa ini beredar pada garis orbit
tertentu, tidak bergeser dan pindah sedikitpun, persis sebagaimana firman Allah
SWT:
"Dan masing-masing beredar pada garis edarnya" (QS. Yasin
(36): 40).
Penyampaian fakta-fakta alam ini
dengan formulasi ilmiah yang cukup detail pada kurun waktu di mana telah
berkembang luas keyakinan manusia akan kedataran dan bumi dari
ketidakbergerakannya, termasuk salah satu pancaran sinar kenabian yang membuktikan
kenabian dan risalah beliau. Tidak ada seorang pun di senanjung Arab pada zaman
diturunkannya Wahyu bahkan berabad-abad setelahnya, yang mengetahui fakta
"kebulatan" bumi dan rotasinya mengelilingi porosnya di hadapan
matahari. Tidak ada juga yang mengetahui pergerakan bulan dan matahari atau
gerakan benda-benda langit lainnya maupun bentuk riil dan manifestasi nyata
pergerakan tersebut. Lingkungan Arab pada zaman Wahyu adalah lingkungan yang
sangat primitive dan tidak mengenali ilmu pengetahuan secara umum maupun
pengetahuan tentang alam semesta dan komponen-komponen secara khusus.
II. KESIMPULAN
Fenomenologi merupakan sebuah
studi dalam bidang filsafat yang mengajari manusia sebagai sebuah fenomena.
Fenomena atau fenomenalisme adalah aliran atau paham yang menganggap bahwa
fonomenalisme (gejala) adalah sumber ilmu pengetahuan dan kebenaran. Edmund
Hursell adalah seorang tokoh fenomenologi, yaitu selalu berupaya ingin
mendekati realitas tidak melalui argumen-argumen, konsep-konsep atau teori
umum.
Dalam fenomenologi, ilmu
pengetahuan muncul karena apa yang sudah diketahui secara spontas dan langsung
disusun dan diatur secara sistematis dengan menggunakan metode tertentu yang
bersifat baku.
Metodologi adalah studi tentang
metode yang digunakan dalam suatu bidang ilmu untuk memperoleh pengetahuan
mengenai pokok persoalan dan ilmu itu, menurut aspek tertentu dan penyelidikan
metodelogi berhubungan dengan proses-proses kognitif yang dituntut oleh
persoalan-persoalan yang muncul dari pondok studi itu, dapat di katakana bahwa
suatu metode adalah kombinasi sistematik dari proses-proses kognitif dengan
menggunakan teknik-teknik khusus.
Tinjauan keseluruhan tipe
pemahaman tingkah laku orang beragam ini tepatnya untuk menangkap makna lebih
dalam dari dan intensionalitas dari data religius orang lainyang merupakan
ekspresi-ekpresi dari pengalaman religius dan imannya lebih dalam. Seperti kita
lihat, sejarah agama membahas aspek-aspek yang paling pokok dari kehidupan
manusia sampai menjadi dasar sepenuh-penuhnya bahwa agama adalah sesuatu yang
paling dalam dan paling luhur dalam wilayah eksistensi spiritual dan
intelektual manusia. Meskipun disadari batas-batasnya dalam tugas memasuki
kedalaman pengalaman dari suatu jiwa religius.
Sejarah agama pertama-tama
berurusan dengan agama dalam lingkupnya masing-masing. Perkembangannya dalam
lingkup yang sama, oleh karena itu sejarah agama mempelajari data religius
dalam kaitan historisnya. Bukan saja dengan data religius lain, tetapi juga
dengan data yang bukan religius, apakah itu kesusasteran, kesenian,
kemasyarakatan dan sebagainya. Lebih dari itu tidaklah cukup hanya mengetahui
apa yang tepatnya terjadi dan bagaimana fakta itu didapatkan yang ingin kita
ketahui terutama adalah makna dari kejadian itu.
Penyampaian fakta-fakta alam
dengan formulasi ilmiah yang cukup detail pada kurun waktu dimana telah
berkembang luas keyakinan manusia akan kedataran dan bumi dari
ketidakbergerakannya, termasuk salah satu pancaran sinar kenabian yang
membuktikan kenabian dan risalah beliau.
DAFTAR PUSTAKA
Maksum Ali, Pengantar Filsafat, Yogyakarta:
PusApom Press, 2007
Keraf Sony dan Mikhael, Dua Ilmu Pengetahuan:
Sebuah Tinjauan Filosofis, Yogyakarta: KANISIUS, 2001
Dhavomony Mariasuasi, Fenomenologi Agama,
Yogyakarta: KANISIUS, 1995
Dr. An-Najjar Zaqhlul, Pembuktian sains dalam
Sunnah, Jilid 2, Jakarta: AMZAH, 2006