Download Makalah ini disini gratis
PEMBAHARUAN DI MESIR
A. MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
1. Perjalanan Hidup Muhammad bin Abdul Wahab
Muhammad bin ʿAbd al-Wahhāb memiliki nama lengkap Muhammad bin ʿAbd
al-Wahhāb bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin
Muhammad bin al-Masyarif at-Tamimi al-Hambali an-Najdi.
Muhammad bin Abdul Wahab (1115-1201 H/1703-1787 M) lahir di Uyainah (Nejed),
lebih kurang 70 km arah barat laut kota Riyadh, ibukota Arab Saudi sekarang. Ia tumbuh dan
dibesarkan dalam kalangan keluarga terpelajar. Ayahnya adalah
seorang tokoh agama di lingkungannya. Sedangkan kakeknya adalah seorang qadhi
(mufti besar), tempat di mana masyarakat Najd menanyakan segala sesuatu masalah yang bersangkutan
dengan agama.
2. Perjuangan
Muhammad bin Abdul Wahhab memurnikan dan mengembalikan Akidah Islam
Melihat keadaan umat islam yang menurutnya sudah melanggar akidah, ia mulai
merencanakan untuk menyusun sebuah barisan ahli tauhid (muwahhidin) yang
diyakininya sebagai gerakan memurnikan dan mengembalikan akidah Islam. Oleh lawan-lawannya, gerakan ini kemudian disebut dengan
nama gerakan Wahabiyah.
Muhammad bin
Abdul Wahab memulai pergerakan di kampungnya sendiri, Uyainah. Ketika itu,
Uyainah diperintah oleh seorang Amir (penguasa) bernama Usman bin Muammar. Amir Usman menyambut baik ide dan gagasan Muhammad, bahkan beliau berjanji akan
menolong dan mendukung perjuangan tersebut.
Pada permulaan gerakannya dia bersama 600 orang tentara menghancurkan sebuah bangunan yang dibina di atas maqam
Zaid bin al-Khattab. Karena membuat
bangunan di atas kubur menurut pendapatnya dapat menjurus kepada kemusyrikan.
Pergerakan Muhammad bin Abdul Wahab tidak berhenti
sampai disitu, ia kemudian menghancurkan beberapa makam yang dipandangnya
berbahaya bagi ketauhidan. Hal ini menurutnya adalah untuk mencegah agar
makam tersebut tidak dijadikan objek peribadatan oleh masyarakat Islam
setempat. Berita tentang pergerakan ini akhirnya tersebar luas di kalangan
masyarakat Uyainah mahupun di luar Uyainah.
Ketika
pemerintah al-Ahsa' mendapat berita bahwa Muhammad bin'Abd al-Wahhab
mendakwahkan pendapat yang keras, Muhammad diusir dari Uyainah dan mengungsi ke daerah lain, Selanjutnya Muhammad bin Abdul Wahab hijrah ke Dar’iyah
(masih di wilayah Najd).
Sesampainya Muhammad di sebuah
kampung wilayah Dariyah, yang tidak berapa jauh dari tempat kediaman AmirMuhammad bin Saud (pemerintah negeri Dar’iyah),
menemui seorang penduduk di kampung itu, orang tersebut bernama Muhammad bin Sulaim al-`Arini.
Bermula dari
sinilah Muhammad ibn Abdul Wahhab mendapat dukungan dari amir
Muhammad bin Saud serta masyarakat sekitar. Dengan demikian, Muhammad bin Abdul Wahab
memperoleh dukungan politik, moral, dan material dalam melaksanakan gerakannya.
Nama
Muhammad bin Abdul Wahab dengan ajaran-ajarannya itu sudah begitu
terdengar di kalangan masyarakat, baik di dalam negeri Dariyah maupun di negeri-negeri tetangga. Masyarakat
luar Dariyah pun berduyun-duyun datang ke Dariyah untuk menetap dan tinggal di
negeri ini, sehingga negeri Dariyah penuh sesak dengan kaum muhajirin dari
seluruh pelosok tanah Arab. Ia pun mulai membuka madrasah dengan menggunakan kurikulum yang menjadi teras bagi rencana
perjuangan beliau, yaitu bidang pengajian Aqaid al-Qur’an,
tafsir, fiqh, usul fiqh, hadith, musthalah hadith, gramatikanya dan
lain-lain.
Karena beliau memahami semua ajaran yang tidak ada landasannya dalam Al
Qur’an serta segala seuatu bentuk ajaran yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi
Muhhamad saw adalah bentuk bid’ah, sedangkan semua bid’ah (hal yang baru) semua
mesesarkan yang akan bermuara pada api neraka.
Pemahamman ini dengan dukungan penguasa ‘Ibn Suud’sampai saat ini
dapat berkembang pesat dan banyak pengikutnya bahkan menjadi mazhab resmi
kerajaan, walaupun tidak sedikit pula para ulama yang tidak sepahaman
menentangnya.
Ia melihat beberapa hal yang
diidentifikasikan bisa membawa pada kemusyrikan dan menjauhkan dari keteuhidan,
yaitu :
a)
Berdoa
kepada selain Allah untuk suatu hajat, atau berdoa kepada Allah sekaligus
kepada selain-Nya.
b)
Bertawasul
kepada para Nabi dan orang-orang saleh untuk bertaqarub kepada Allah
c)
Meminta
perlindungan kepada makhluk
d)
Bersumpah
atau bernadzar kepada selain Allah
e)
Berziarah
kubur untuk mengharap doa dan meminta syafaat kepada yang telah meninggal
3. Wafatnya
Muhammad bin Abdul Wahhab
Muhammad bin
`Abdul Wahab telah menghabiskan waktunya selama 48 tahun lebih di Dar’iyah.
Keseluruhan hidupnya diisi dengan kegiatan menulis, mengajar, berdakwah dan
berjihad serta mengabdi sebagai menteri penerangan Kerajaan Saudi di Tanah
Arab. Muhammad bin Abdulwahab berdakwah sampai usia 92 tahun, beliau wafat pada
tanggal 29 Syawal 1206 H, bersamaan dengan tahun 1793 M, dalam usia 92 tahun.
Jenazahnya dikebumikan di Dar’iyah (Najd).
B. PENDUDUKAN NAPOLEON DAN PENGARUHNYA TERHADAP PEMBAHARUAN
DI MESIR
Setelah selesai revolusi
1789 Prancis mulai menjadi negara besar yang mendapat saingan dan tantangan
dari Inggris. Inggris di waktu itu telah meningkat kepentingan-kepentingannya
di India dan untuk memutuskan komunikasi antara Inggris di Barat dan India di
Timur, Napoleon melihat bahwa Mesir
perlu diletakkan di bawa kekuasaan
Prancis. Di samping itu Prancis perlu pada pasaran baru untuk hasil
perindustriannya. Napoleon sendiri
kelihatnnya mempunyai tujuan sampingan
lain. Alexander Macedonia pernah
menguasai Eropa dan Asia sampai ke India, dan Napoleon ingin mengikuti jejak Alexander ini. Tempat strategis untuk
menguasai kerajaan besar seperti yang dicita-citakannya itu, adalah Kairo dan
bukan Roma atau Paris. Inilah beberapa hal yang mendorong Perancis dan Napoleon
untuk menduduki Mesir.
Bagaimana
lemahnya pertahanan Kerajaan Usmani dan kaum Mamluk di ketika itu, dapat
digambarkan dari perjalanan perang di
Mesir. Napoleon mendarat di Alexandria pada tanggal 2 Juni 1798 dan keesokan
harinya kota pelabuhan yang penting ini jatuh.sembilan hari kemudian, Rasyid,
suatu kota yang terletak di sebelah
timur Alexadria, jatuh pula. Pada tanggal 21 Juli tentara Napoleon sampai di daerah piramid di dekat Kairo.
Pertempuran melawan terjadi di tempat itu dan kaum Mamluk karena tak sanggup
melawan senjata-senjata meriam Napoleon,
lari ke Kairo. Tetapi di sini mereka
tidak mendapat simpati dan sokongan dari rakyat Mesir. Akhirnya mereka
terpaksa lari lagi ke daerah Mesir sebelah selatan. Pada tanggal
22 Juli, tidak sampai tiga minggu setelah mendarat di Alexandaria, Napoleon
telah dapat menguasai Mesir.
Usaha
Napoleon untuk menguasai daerah-daerah lainnya di Timur tidak berhasil dan
sementara itu perkembangan politik di
Prancis menghendaki kehadirannya di
Paris. Pada tanggal 18 Agustus 1799, ia meninggalkan Mesir kembali ke tanah airnya. Ekspedisi yang
dibawanya ia tinggalkan di bawah pimpinan Jendral Kleber. Dalam
pertempuran yang terjadi di tahun di tahun 1801 dengan armada Inggris, kekuatan
Prancis di Mesir mengalami kekalahan. Ekspedisi yang dibawa Napoleon itu
meninggalkan Mesir pada tanggal 31
Agustus 1801.
Setelah
persentuhan peradaban Eropa terhadap Mesir inilah, kondisi umat Islam kian
menata diri dan memperhitungkan kemungkinan langkah-langkah modernisme yang
bisa mengangkat citra kaum muslimin secara umum nantinya sebagai negara maju
melalui pemikiran-pemikiran cemerlang dan tercerahkan pada modernis seperti
Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh dan murid-muridnya.